Inews Combat Sports – Dalam dunia MMA, teknik grappling indah dan duel lima ronde penuh determinasi memang layak diapresiasi. Namun pada akhirnya, ada satu momen yang selalu ditunggu penggemar: knockout. Tahun 2025 menghadirkan banyak penyelesaian spektakuler, tetapi satu momen berdiri paling menonjol. Knockout yang dilakukan Mauricio Ruffy atas King Green di UFC 313 bukan sekadar kemenangan. Ia adalah ledakan emosi, estetika, dan ketepatan teknik dalam satu detik yang sempurna. Sejak musim panas, momen ini sudah menjadi pembicaraan. Bahkan ketika banyak kandidat lain bermunculan, knockout ini tetap terasa berbeda. Ia bukan kejutan besar di atas kertas, tetapi justru itulah keistimewaannya. Tanpa drama panjang, satu gerakan bersih sudah cukup untuk membuat arena bergemuruh dan penonton terdiam bersamaan.
Bukan Upset, Tapi Karya Seni Bela Diri
Knockout Mauricio Ruffy atas King Green bukan berasal dari duel ranking elite atau perebutan gelar. Namun justru di situlah nilainya. Ruffy menampilkan seni striking murni. Tendangan berputar penuh presisi itu mendarat sempurna, membuat Green terpental ke pagar sebelum jatuh tak sadarkan diri. Tidak ada kebetulan dalam momen tersebut. Ruffy membaca jarak, timing, dan pergerakan lawan dengan ketenangan luar biasa. King Green, petarung veteran dengan pengalaman puluhan laga, dikenal licin dan sulit disentuh bersih. Namun satu kesalahan kecil dibayar mahal. Dalam hitungan detik, laga berubah menjadi highlight abadi. Knockout ini tidak membutuhkan konteks sejarah panjang untuk terasa legendaris. Visualnya sudah cukup berbicara.
“Baca Juga : Gaethje vs Pimblett: Duel Seru di UFC 324 yang Tak Boleh Dilewatkan“
Keindahan Estetika yang Sulit Ditandingi
Ada knockout yang brutal, ada yang dramatis, dan ada yang indah. Momen Ruffy masuk kategori terakhir. Gerakan berputar yang halus, kontak penuh, dan dampak instan menciptakan visual yang nyaris sinematik. Banyak penyelesaian keras di 2025, tetapi tidak semuanya enak ditonton. Sebaliknya, knockout ini memadukan kecepatan, teknik, dan keseimbangan. Bahkan bagi penonton netral, momen tersebut memancing decak kagum sekaligus ngeri. King Green memang lebih rentan terkena KO di fase kariernya sekarang. Namun menangkap petarung secerdas dia dengan tendangan penuh ekstensi tetaplah prestasi luar biasa. Itulah alasan mengapa knockout ini dipilih sebagai Knockout of the Year versi MMA Fighting. Ia adalah contoh ketika keindahan dan efektivitas bertemu di oktagon.
Sorotan di Tengah Tahun Naik Turun Fighting Nerds
Knockout ini juga memiliki konteks emosional bagi tim Fighting Nerds. Tahun 2025 bukan tahun sempurna bagi mereka. Caio Borralho gagal mencapai duel perebutan gelar. Jean Silva menelan kekalahan perdananya di UFC. Bahkan Ruffy sendiri tak mampu menjaga momentum, kalah dari Benoît Saint Denis setelah kemenangan ikonik itu. Namun seperti dalam musik, tidak semua karya harus sempurna untuk diingat. Satu lagu ikonik bisa mewakili satu era. Knockout Ruffy adalah momen solo brilian yang menjaga nama tim tetap relevan di tengah pasang surut performa.
“Baca Juga : Merab Dvalishvili mempertahankan gelar juara kelas bantamnya melawan Petr Yan“
King Green dan Harga Pengalaman Panjang
Bagi King Green, knockout ini adalah pengingat pahit tentang kerasnya MMA. Dengan lebih dari 50 pertarungan profesional, tubuh dan refleks tentu tidak lagi sama. Namun pengalaman panjang itulah yang membuat momen ini semakin signifikan. Green bukan petarung ceroboh. Ia cerdas, berani, dan penuh insting bertahan hidup. Justru karena itu, kekalahan ini terasa mengejutkan. Ruffy tidak mengalahkan lawan sembarangan. Ia menjatuhkan seorang veteran yang telah menghadapi hampir semua gaya bertarung. Dalam MMA, pengalaman biasanya menjadi tameng. Pada malam itu, satu kesalahan kecil membuat semua pengalaman tak berarti. Itulah kejam sekaligus indahnya olahraga ini.
Mengapa Knockout Ini Layak Jadi yang Terbaik
Tahun 2025 menyajikan banyak knockout luar biasa. Ada spinning elbow, hujan pukulan, hingga penyelesaian brutal di ronde akhir. Namun tidak ada yang menyamai kombinasi visual, kebersihan teknik, dan dampak emosional dari momen Ruffy vs Green. Knockout ini mudah diingat, mudah diputar ulang, dan mudah diceritakan kembali. Ia tidak membutuhkan narasi berlapis-lapis. Cukup satu tayangan ulang untuk memahami mengapa momen ini dipilih. Dalam dunia MMA yang penuh kekacauan dan ketidakpastian, ada saat-saat langka ketika segalanya terasa sempurna. Knockout Mauricio Ruffy di UFC 313 adalah salah satunya.