Inews Combat Sports – Movsar Evloev sempat takut kariernya tamat setelah ia diserang virus misterius yang membuat kondisi tubuhnya drop selama berbulan-bulan. Padahal, jika melihat rekam jejaknya, Evloev seharusnya sudah bertarung memperebutkan sabuk juara kelas bulu UFC pada 2025. Ia tak terkalahkan, mengoleksi kemenangan atas nama besar seperti Aljamain Sterling dan Arnold Allen, dan bahkan berada di posisi puncak ranking. Namun, alih-alih mendapat title shot, ia justru dijadwalkan melawan pendatang baru Aaron Pico. Lalu tiba-tiba ia menghilang, batal bertarung, dan baru kembali muncul untuk main event UFC London melawan Lerone Murphy. Di balik jeda panjang itu, Evloev ternyata melewati fase paling menakutkan dalam hidupnya sebagai petarung.
Evloev Sebenarnya Sudah Siap Tempur Setelah Kalahkan Aljamain Sterling
Movsar Evloev sempat takut kariernya tamat meski awalnya semuanya berjalan normal. Setelah mengalahkan Sterling, ia pulang dan mengambil jeda sekitar satu bulan sebelum kembali berlatih. Ia kemudian memulai camp latihan lagi dan terus meminta jadwal bertanding. UFC sempat memberi jadwal pada bulan Mei, yang menurut Evloev adalah waktu ideal. Namun, rencana berubah. Lawan yang ditetapkan adalah Aaron Pico, lalu jadwal digeser menjadi Juli. Di titik ini, ia mengaku camp yang dijalani sudah terlalu panjang. Meski begitu, ia tetap berlatih tanpa henti, bahkan sampai pindah ke Thailand. Dari sudut pandang fisik, ini seperti mesin yang dipaksa terus hidup tanpa servis.
“Baca Juga : Naoya Inoue, ‘The Monster’: Kekuatan Mengguncang Dunia Tinju“
Camp Terlalu Panjang Membuat Imunitas Turun dan Tubuh Mulai Memberontak
Movsar Evloev sempat takut kariernya tamat karena tubuhnya akhirnya “menolak” tekanan yang terlalu lama. Ia menduga imunitasnya turun karena latihan intens yang tidak berhenti. Lalu, ia terkena virus yang ia sebut mirip COVID atau semacamnya. Efeknya brutal. Bahkan latihan ringan pun membuatnya merasa sangat buruk. Dalam kondisi seperti itu, keputusan mundur dari laga melawan Pico menjadi satu-satunya pilihan masuk akal. Apalagi, Pico juga dikenal sebagai petarung dengan kekuatan gulat yang berat. Jika Evloev memaksakan diri, risikonya bukan hanya kalah, tetapi bisa berujung cedera atau kerusakan fisik yang lebih serius.
Virus Misterius Menghantam Seluruh Tubuh, Terutama Sistem Kardio
Movsar Evloev sempat takut kariernya tamat karena virus tersebut tidak hanya membuatnya lemas, tetapi menghantam sistem pernapasan dan kardio secara ekstrem. Ia menjelaskan bahwa meski terlihat pulih, napasnya tetap tidak normal. Ini yang membuat situasinya terasa mengerikan. Banyak atlet bisa menerima cedera lutut atau tangan, karena proses pemulihannya jelas. Namun, ketika masalahnya adalah napas, semuanya jadi gelap. Petarung MMA hidup dari kardio. Jika napas tidak bisa mengejar ritme, maka teknik sehebat apa pun akan runtuh di ronde kedua atau ketiga.
“Baca Juga : Nick Ball dan Brandon Figueroa Berebut Gelar Juara Dunia“
Dokter Berkali-kali Menyatakan “Clear”, Tapi Gejalanya Kembali di Gym
Movsar Evloev sempat takut kariernya tamat karena ia mengalami pola yang membuat frustrasi. Setiap kali ia merasa membaik, dokter menyatakan ia sudah aman untuk kembali latihan. Namun, begitu ia masuk gym dan mulai latihan, gejalanya kembali muncul. Hasil pemeriksaan dan tes medis selalu mengatakan tubuhnya baik-baik saja. Tetapi tubuhnya sendiri berkata sebaliknya. Ia bahkan mengaku, dengan cardio ringan saja, rasa sesak itu kembali. Ini adalah momen ketika seorang atlet mulai mempertanyakan masa depannya. Karena pada akhirnya, tubuh adalah hakim terakhir, bukan kertas hasil lab.
Kalimat yang Menghantui: “Apa Aku Tidak Akan Bertarung Lagi?”
Movsar Evloev sempat takut kariernya tamat dan ia mengakui pikiran paling menakutkan sempat muncul di kepalanya. Ia bertanya pada dirinya sendiri, “Apa aku tidak akan bertarung lagi?” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi bagi petarung, itu seperti vonis. Banyak orang melihat MMA sebagai profesi yang keras, namun lupa bahwa para petarung juga manusia yang hidup dari satu hal: keyakinan bahwa tubuh mereka masih mampu. Ketika keyakinan itu goyah, mental pun ikut runtuh. Dalam opini saya, bagian paling menyedihkan dari kisah Evloev bukan soal sakitnya, tetapi soal ketidakpastian yang memakan pikiran.