Inews Combat Sports – Ada masa ketika divisi heavyweight UFC adalah panggung paling menakutkan sekaligus paling bergengsi. Satu pukulan bisa mengubah sejarah, dan satu kemenangan bisa mengangkat nama petarung menjadi legenda. Namun, pada Februari 2026, aura itu terasa memudar. Banyak fans mulai bertanya dengan nada getir: masih layakkah kelas berat dipertahankan? Pertanyaan ini muncul setelah rangkaian pertarungan yang mengecewakan, mulai dari Jailton Almeida vs Rizvan Kuniev yang dianggap “travesty,” hingga Tallison Teixeira vs Tai Tuivasa yang sama-sama kehabisan bensin sebelum ronde terakhir selesai. Selain itu, ketidakjelasan jadwal sang juara membuat situasi makin rumit. Divisi ini seolah berjalan tanpa arah, seperti kapal besar yang kehilangan kompas di tengah badai.
Pertarungan Buruk Membuat Fans Kehilangan Kesabaran
Dalam olahraga yang hidup dari emosi, pertarungan buruk adalah racun. Fans datang untuk melihat drama, strategi, dan momen yang membuat jantung berhenti sesaat. Namun, yang terjadi belakangan justru sebaliknya. Almeida vs Kuniev bukan hanya membosankan, tetapi juga terasa seperti pertandingan yang kehilangan makna. Lalu, seminggu sebelumnya, Teixeira dan Tuivasa sama-sama “gassing out” dan bertahan hanya dengan sisa tenaga, seolah pertarungan top-15 pun tidak lagi menjamin kualitas. Karena itu, banyak penonton mulai frustrasi. Mereka tidak hanya kecewa pada petarung, tetapi juga pada sistem yang membiarkan divisi heavyweight terus menurun. Di titik ini, wajar jika muncul wacana ekstrem: mungkin UFC harus memotong kerugian dan move on.
“Baca Juga : Pertarungan Shakur Stevenson vs Alexander Topuria Tinju vs MMA“
Juara yang Tak Kunjung Kembali Membuat Divisi Terasa Kosong
Divisi apa pun butuh pusat gravitasi, dan di UFC, pusat itu adalah juara. Namun, masalahnya, heavyweight kini seperti panggung tanpa pemeran utama. Setelah 2025 akhirnya memperlihatkan pertahanan gelar melawan lawan kuat, hasilnya justru berakhir no-contest karena insiden eye poke antara Ciryl Gane dan Tom Aspinall. Sejak saat itu, tidak ada timeline yang jelas kapan sang juara kembali. Akibatnya, ranking terasa seperti daftar nama tanpa cerita. Fans tidak tahu siapa yang benar-benar next. Petarung pun seperti berputar di tempat. Selain itu, UFC kehilangan momentum untuk membangun rivalitas besar. Dalam bisnis hiburan, ketidakpastian seperti ini sangat mahal. Dan di kelas berat, mahalnya terasa dua kali lipat.
Krisis Talenta: Ranking Ada, Tapi Ancaman Nyata Minim
Ada satu hal yang paling menyakitkan untuk diakui: kualitas talenta heavyweight UFC saat ini dianggap paling lemah sejak era awal 2000-an. Pada masa itu, Pride FC memiliki hampir semua kelas berat terbaik dunia. Sekarang, situasinya berbeda, tetapi masalahnya mirip: depth-nya tipis. Memang, di puncak masih ada petarung hebat. Namun, ketika melihat ranking, banyak fans merasa “kok ini saja?” Banyak pertarungan heavyweight terasa seperti adu napas, bukan adu skill. Selain itu, beberapa petarung top sering tidak aktif karena cedera, usia, atau masalah kontrak. Alhasil, divisi ini seperti lahan yang kering. Nama-nama ada, tetapi ancaman nyata tidak terasa. Jika UFC ingin menjaga standar, mereka harus mengakui bahwa heavyweight sedang dalam fase krisis.
“Baca Juga : Oleksandr Usyk Kembali ke Ring Persaingan Kelas Berat 2026“
Menghapus Divisi Heavyweight: Ide Gila yang Mulai Terasa Masuk Akal
Dulu, gagasan menghapus divisi heavyweight akan terdengar seperti lelucon. Namun, sekarang, ide itu mulai terasa “masuk akal” bagi sebagian orang. Bukan karena heavyweight tidak penting, tetapi karena UFC sebagai organisasi harus menjaga kualitas produk. Jika terlalu banyak pertarungan buruk, penonton bisa pindah. Selain itu, UFC punya banyak divisi lain yang jauh lebih kompetitif, seperti lightweight, bantamweight, hingga welterweight. Jadi, ada pertanyaan besar: mengapa mempertahankan divisi yang sering menghasilkan pertarungan lambat, minim aktivitas, dan penuh ketidakpastian? Namun, di sisi lain, menghapus heavyweight juga berarti membuang sejarah. Ini adalah divisi yang melahirkan ikon, dari era klasik hingga era modern. Karena itu, wacana ini bukan sekadar soal olahraga, tetapi juga soal identitas UFC.
Kenapa Heavyweight Tetap Dibutuhkan, Meski Sedang Terpuruk
Meski banyak kritik, heavyweight tetap punya daya tarik yang sulit digantikan. Kelas berat adalah simbol “bahaya,” sesuatu yang membuat penonton menahan napas karena tahu pertarungan bisa selesai kapan saja. Selain itu, heavyweight sering menjadi pintu masuk bagi penonton baru. Orang awam lebih mudah terpikat oleh duel dua pria besar yang saling mengincar KO. Dari sisi bisnis, divisi ini juga punya nilai besar dalam promosi. Bahkan ketika kualitas pertarungan turun, hype heavyweight tetap bisa menjual. Namun, masalahnya, hype tanpa isi tidak bisa bertahan lama. Karena itu, heavyweight masih dibutuhkan, tetapi harus dibangun ulang. UFC perlu mencari cara untuk membuat divisi ini kembali hidup. Tanpa perbaikan, heavyweight akan tetap menjadi “nama besar” dengan performa yang mengecewakan.