Inews Combat Sports – UFC sedang menyiapkan kartu pertarungan yang dijadwalkan berlangsung di halaman White House pada 14 Juni, dan sejak awal, Dana White sudah memasang standar yang nyaris mustahil: “kartu terbesar dalam sejarah.” Selain itu, ekspektasi publik makin melonjak setelah Ari Emanuel menyebut event tersebut hanya akan berisi enam sampai tujuh pertarungan saja. Artinya, setiap duel harus terasa super besar, bukan sekadar menarik. Dalam suasana seperti ini, hype bekerja seperti api. Ia cepat menyala, tetapi juga mudah membakar. Di satu sisi, ide pertarungan UFC di White House terdengar seperti momen budaya pop yang akan dicatat sejarah. Namun di sisi lain, janji sebesar itu membuat publik menunggu sesuatu yang benar-benar monumental. Karena itu, setiap rumor tentang Gaethje, Topuria, Jon Jones, hingga McGregor langsung menjadi bahan spekulasi. Dan di tengah gegap gempita tersebut, Matt Brown justru datang membawa keraguan yang terdengar pahit, tetapi realistis.
Matt Brown: UFC Tidak Punya Bintang Seperti Dulu
Matt Brown, mantan petarung kelas welter UFC, menilai UFC sekarang tidak lagi memiliki bintang sebesar era sebelumnya. Menurutnya, ini bukan soal kualitas atlet yang menurun, melainkan soal magnet nama besar yang dulu membuat orang menonton bahkan tanpa peduli siapa lawannya. Selain itu, Brown menilai UFC terlalu sering menjual “bayangan” ketimbang kepastian, terutama ketika menyebut nama Conor McGregor sebagai bagian dari promosi. Ia bahkan mengatakan dirinya tidak akan percaya McGregor bertarung sampai petarung itu benar-benar berdiri di oktagon dan sebuah pukulan sudah dilempar. Kalimat itu terdengar ekstrem, tetapi menggambarkan trauma publik terhadap janji-janji comeback yang tak pernah terjadi. Di era digital, promosi bisa viral dalam satu malam, tetapi kekecewaan juga bisa meledak lebih cepat. Karena itu, Brown merasa UFC sedang menyiapkan panggung besar dengan aktor yang jumlahnya tidak sebanyak dulu. Dan jika panggungnya White House, kegagalan terasa akan lebih memalukan.
“Baca Juga : Daniel Dubois Hadapi Wardley Ujian Terbesar di Manchester“
McGregor dan Sindrom “Percaya Nanti Saja Kalau Sudah Terjadi”
Nama Conor McGregor selalu menjadi tombol ajaib dalam promosi UFC. Begitu disebut, perhatian langsung naik. Namun, Brown melihatnya sebagai pedang bermata dua. Ia percaya UFC memakai nama McGregor untuk mengerek ekspektasi, meski peluang McGregor benar-benar bertarung sangat kecil. Selain itu, Brown mengingatkan bahwa McGregor sudah hampir lima tahun absen dari pertarungan, sejak cedera patah kaki pada 2021. Dalam dunia MMA, absen panjang bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal ritme, ketajaman, dan motivasi. Karena itu, publik yang terlalu percaya bisa saja kembali kecewa. Bahkan jika McGregor menandatangani kontrak pun, Brown menganggap hal itu belum cukup. Perspektif ini memang sinis, tetapi justru terasa seperti suara penggemar lama yang sudah berkali-kali ditipu harapan. Pada akhirnya, McGregor menjadi simbol dilema UFC: mereka butuh bintang, tetapi bintang terbesar mereka justru berada dalam status “mungkin, mungkin tidak.”
Topuria vs Gaethje: Main Event Besar, Tapi Risiko Ceritanya Pahit
Jika prediksi Justin Gaethje benar, maka ia akan menghadapi juara lightweight Ilia Topuria dalam duel unifikasi gelar. Secara nama, ini pertarungan besar. Namun, Matt Brown menilai masalahnya bukan pada kebesaran duel, melainkan pada arah ceritanya. Ia melihat Topuria berada “beberapa level” di atas Gaethje, sehingga kemungkinan besar petarung Amerika itu justru kalah. Selain itu, Brown memandang duel ini bisa berubah menjadi pertarungan yang tidak sebrutal ekspektasi publik. Topuria bisa saja memilih aman, memukul dengan jab, bergerak, dan mengunci kemenangan lima ronde tanpa drama knockout. Di atas kertas, duel ini tetap menjual. Namun dalam praktik, ia berisiko terasa datar, terutama jika publik datang dengan bayangan perang besar. Di sinilah masalah event White House muncul: ketika hanya ada enam sampai tujuh pertarungan, setiap laga harus punya “momen.” Dan jika main event-nya berakhir seperti pertandingan catur, hype yang besar bisa runtuh seketika.
“Baca Juga : Dua Bersaudara Croft Resmi Gabung Matchroom Boxing“
Jon Jones vs Alex Pereira: Duel Raksasa yang Mungkin Terlalu Sepihak
Nama Jon Jones dan Alex Pereira terdengar seperti kombinasi paling “besar” yang bisa dibuat UFC saat ini. Karena itu, rumor keduanya bertarung di White House terasa seperti tiket emas. Namun, Brown justru menganggap duel itu mungkin tidak seru karena terlalu berat sebelah. Ia percaya Jones akan langsung membawa Pereira ke bawah, lalu menyelesaikan laga dengan cepat. Selain itu, Brown menilai Jones bukan tipe petarung yang akan “melayani” perang striking jika ia tahu ada jalur lebih aman menuju kemenangan. Pandangan ini masuk akal, karena Jones adalah petarung yang cerdas dan selalu menyesuaikan strategi untuk menang. Tetapi justru di situ letak masalah promosi. Publik ingin melihat duel raksasa yang dramatis, bukan demonstrasi dominasi satu pihak. Jika White House dijadikan panggung simbolik untuk “kartu terbesar,” maka main event yang berakhir cepat karena grappling bisa terasa antiklimaks. Dan pada akhirnya, UFC bisa menang secara bisnis, tetapi kalah dalam memori publik.
Masalah yang Lebih Rumit: White House dan Minimnya Bintang Amerika
Brown mengangkat isu yang lebih sensitif, yaitu soal identitas event itu sendiri. Karena lokasi pertarungan adalah White House, banyak orang menganggap UFC perlu menampilkan bintang-bintang Amerika. Namun, Brown menilai UFC saat ini justru kekurangan nama Amerika yang benar-benar punya aura superstar. Selain itu, dominasi petarung internasional di era modern UFC membuat pilihan semakin terbatas. Jika UFC memaksakan kartu “Amerika-sentris,” maka kualitas laga bisa turun. Namun jika UFC memilih kartu internasional, maka konsep White House bisa terasa janggal, seperti panggung patriotik yang tidak diisi tokoh lokal. Ini dilema yang nyata. Di satu sisi, UFC adalah olahraga global, dan seharusnya event besar memamerkan yang terbaik tanpa memandang asal. Namun di sisi lain, simbol White House membawa beban narasi yang sulit dihindari. Karena itu, Brown menyarankan UFC mungkin harus menyerah pada romantisme dan fokus pada pertarungan terbesar, apa pun kewarganegaraan petarungnya.