Inews Combat Sports – Rencana duel besar Alex Pereira melawan Jon Jones di kartu UFC White House pada 14 Juni kini memasuki babak baru yang lebih rumit. Jon Jones baru saja mengungkap diagnosis “severe arthritis” di pinggul kiri, cedera yang cukup serius hingga membuatnya memenuhi syarat untuk operasi penggantian pinggul. Di titik ini, publik MMA kembali dihadapkan pada pertanyaan yang selalu muncul saat legenda terluka: apakah ini sekadar hambatan sementara, atau pertanda akhir? Namun, Pereira justru tampil tenang. Dalam wawancara bersama kanal YouTube Valter Walker, sang juara light heavyweight menegaskan bahwa cedera kronis adalah bagian dari kehidupan atlet. Dengan nada yang realistis, ia seolah berkata bahwa ambisi tidak berhenti hanya karena tubuh orang lain rapuh. Ia tetap ingin bertarung di event White House, dengan Jones atau tanpa Jones.
Arthritis Jon Jones Mengubah Peta, Tapi Tidak Mematikan Mimpi
Diagnosis arthritis pada pinggul kiri Jon Jones terdengar sederhana bagi orang awam, tetapi bagi petarung elite, itu bisa menjadi ancaman karier. Cedera di pinggul memengaruhi gerakan inti: rotasi, ledakan takedown, hingga kemampuan menahan tekanan di clinch. Karena itu, kabar bahwa Jones bahkan masuk kategori yang layak mendapat hip replacement langsung mengubah peta pertarungan. Namun, menariknya, Alex Pereira tidak bereaksi seperti fans yang panik atau media yang membesar-besarkan. Ia justru menempatkan isu ini pada konteks yang lebih luas: semua atlet level tinggi pasti punya luka yang disimpan diam-diam. Dengan kata lain, Pereira tidak menganggap kondisi Jones sebagai “kejutan.” Ia melihatnya sebagai bagian dari harga yang dibayar seseorang untuk bertahan di puncak. Sikap ini membuat rencana White House masih terbuka, meski awan gelap mulai mengitari nama Jones.
“Baca Juga : Callum Smith vs David Morrell Resmi Digelar di Liverpool“
Pereira Tidak Kaget: Cedera Kronis adalah Bahasa Sehari-hari Petarung
Ada kalimat Pereira yang terasa sederhana, tetapi mengandung filosofi keras dunia tarung: cedera serius bukan sesuatu yang baru. Ia menyebut bahwa atlet dengan level tertinggi selalu membawa luka kronis, entah itu sendi, tulang rawan, atau saraf yang sudah lama bermasalah. Perspektif ini penting, karena banyak orang menilai petarung hanya dari highlight KO, bukan dari rutinitas rehabilitasi yang menyakitkan. Pereira, yang pernah menempuh jalan panjang dari kickboxing menuju UFC, paham betul bahwa tubuh tidak pernah benar-benar “sehat.” Ia hanya cukup kuat untuk bekerja. Karena itu, ketika Jones bicara soal arthritis, Pereira tidak buru-buru menyimpulkan bahwa laga batal. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai situasi yang harus dibaca dengan tenang. Di dunia MMA, kepastian sering datang terlambat, dan kadang baru benar-benar nyata saat pintu oktagon tertutup.
Kartu UFC White House Masih Menggoda, Meski Jones Bisa Absen
UFC sudah menjanjikan kartu terbesar untuk event White House, dan nama Jon Jones menjadi magnet utama yang mengangkat ekspektasi publik. Namun, jika Jones tidak siap, maka UFC harus menyusun ulang narasi. Di sinilah Pereira menunjukkan fleksibilitas yang jarang dimiliki seorang juara. Ia tidak memaksa satu nama, tidak mengunci diri pada satu cerita. Ia hanya menegaskan satu hal: ia ingin tetap bertarung pada bulan Juni. Bagi UFC, sikap seperti ini sangat berharga, karena promotor butuh kepastian di tengah ketidakpastian. Selain itu, White House bukan sekadar event biasa. Lokasinya membawa simbol politik, gengsi, dan sorotan global yang jauh lebih luas. Maka, kehadiran Pereira, bahkan tanpa Jones, tetap bisa menjaga daya tarik. Ia memahami momentum, dan ia tampak siap menjadi pusat perhatian jika panggung itu memang ditakdirkan untuknya.
“Baca Juga : Lee Selby Mantan Juara Dunia Pindah ke Tinju Bare‑Knuckle“
Pindah ke Heavyweight Tetap Terbuka, Kelas Berat Jadi Godaan Baru
Dalam pernyataannya, Pereira menegaskan bahwa ia tidak peduli lawan siapa pun yang dipasang UFC. Ia bahkan menyebut bahwa dirinya nyaman bertarung di dua divisi: light heavyweight dan heavyweight. Satu-satunya yang tidak mungkin lagi adalah middleweight, karena tubuhnya sudah tidak cocok menurunkan berat sejauh itu. Pernyataan ini terasa seperti sinyal strategis. Pereira sedang membuka opsi, bukan hanya untuk Jones, tetapi juga untuk peluang besar lain seperti Ciryl Gane. Di sisi lain, situasi heavyweight memang sedang dinamis, apalagi ketika Tom Aspinall dikabarkan masih memulihkan diri setelah operasi mata ganda. Kondisi ini menciptakan ruang kosong, dan UFC biasanya cepat mengisi ruang kosong dengan nama besar. Pereira paham itu. Ia bukan hanya petarung, tetapi juga pembaca arah bisnis. Dan pada akhirnya, heavyweight selalu punya daya tarik tersendiri: satu pukulan bisa mengubah sejarah.
Divisi 205 Belum Sepenuhnya Bersih, Pereira Menolak Meremehkan Peringkat
Menariknya, Pereira menolak narasi bahwa ia sudah “membersihkan” divisi light heavyweight. Ia justru mengatakan bahwa semua petarung peringkat, terutama dari nomor 10 ke atas, tetap berbahaya. Ini adalah sikap yang terasa dewasa dan sangat E-E-A-T: ia menunjukkan pengalaman, sekaligus rasa hormat pada realitas olahraga. Di MMA, peringkat bukan sekadar angka. Itu daftar orang-orang yang bisa menghancurkan rencana siapa pun dalam satu malam. Pereira juga menyinggung bahwa banyak nama mungkin tidak “relevan” secara popularitas, tetapi itu tidak penting baginya. Selama seseorang berlatih, berada di peringkat, dan mau bertarung, ia siap menyambutnya. Dalam kalimat itu, ada mentalitas yang khas: ia mengejar tantangan, bukan sekadar sorotan. Dan justru mentalitas seperti ini yang membuat seorang juara terasa autentik di mata publik, karena ia tidak memilih jalan aman.