Inews Combat Sports – Dalam sejarah MMA, triangle choke pernah menjadi simbol keindahan jiu-jitsu. Teknik ini menghadirkan drama, kecerdikan, dan kejutan yang sulit dilupakan. Nama-nama besar seperti Royce Gracie, Anderson Silva, hingga Antonio Rodrigo Nogueira membangun legenda mereka lewat kuncian segitiga yang presisi. Pada masa awal MMA, banyak petarung belum memahami permainan ground, sehingga triangle choke kerap muncul sebagai senjata pamungkas. Namun seiring waktu, lanskap pertarungan berubah. Kini, ketika cage tertutup dan tempo makin cepat, teknik yang dulu dianggap dasar justru terasa semakin langka. Perubahan ini bukan sekadar soal tren, melainkan cerminan evolusi MMA sebagai olahraga yang menuntut efisiensi, keamanan posisi, dan kontrol penuh sepanjang laga.
Angka Statistik yang Mengejutkan Dunia Tarung
Jika nostalgia masih menyimpan kejayaan triangle choke, data modern justru berkata sebaliknya. Sepanjang 2025, dari lebih dari seribu pertarungan di organisasi besar seperti UFC, ONE, PFL, RIZIN, dan KSW, hanya segelintir kemenangan lahir dari triangle choke. Persentasenya bahkan tak sampai sepuluh persen dari total submission. Fakta ini mengejutkan banyak pelatih dan petarung veteran. Padahal, generasi baru atlet MMA memiliki akses teknik yang jauh lebih lengkap. Namun justru di sinilah paradoksnya. Semakin tinggi pemahaman bertahan, semakin sulit triangle choke dieksekusi. Statistik ini menjadi alarm bahwa sesuatu telah bergeser, bukan pada kemampuan, melainkan pada filosofi bertarung itu sendiri.
“Baca Juga : Gaethje vs Pimblett: Duel Seru di UFC 324 yang Tak Boleh Dilewatkan“
Posisi Bawah, Risiko Terbesar dalam MMA
Salah satu alasan utama meredupnya triangle choke adalah posisi awalnya. Teknik ini hampir selalu dimulai dari bawah, tepatnya guard. Dalam MMA modern, berada di bawah berarti membuka diri pada pukulan, siku, dan penilaian negatif juri. Berbeda dengan jiu-jitsu murni, MMA menghukum posisi pasif. Akibatnya, banyak petarung memilih bertahan, scrambling, atau segera bangkit ketimbang berburu submission. Risiko gagal triangle juga besar. Jika kuncian meleset, petarung bisa kehilangan posisi dan menerima ground and pound brutal. Karena itu, meski triangle choke indah secara teknis, banyak atlet memilih jalan yang lebih aman demi kemenangan.
Evolusi Strategi dan Penilaian Juri
Perubahan bukan hanya datang dari petarung, tetapi juga dari sistem penilaian. Juri MMA cenderung memberi nilai lebih pada kontrol atas, tekanan, dan agresivitas. Posisi guard jarang dianggap dominan, bahkan jika petarung aktif menyerang. Kondisi ini membentuk pola pikir baru. Petarung tak lagi melihat guard sebagai zona serangan, melainkan situasi darurat. Akibatnya, triangle choke berubah status dari senjata utama menjadi opsi terakhir. Evolusi ini berjalan perlahan, namun konsisten, hingga akhirnya membentuk wajah MMA modern yang lebih menekankan efektivitas ketimbang estetika.
“Baca Juga : Merab Dvalishvili mempertahankan gelar juara kelas bantamnya melawan Petr Yan“
Pandangan Pelatih Jiu-Jitsu Generasi Lama
Bagi pelatih jiu-jitsu veteran, perubahan ini terasa pahit sekaligus realistis. Mereka mengakui bahwa guard player murni semakin langka. Pelatih berpengalaman menilai, jiu-jitsu tetap penting, tetapi harus disesuaikan dengan konteks MMA. Banyak yang kini menyarankan atlet muda menguasai jiu-jitsu hingga level dasar, lalu fokus ke wrestling dan takedown. Triangle choke tetap diajarkan, tetapi sebagai keterampilan cadangan. Dalam pandangan mereka, MMA bukan lagi arena eksperimen teknik, melainkan kompetisi efisiensi di bawah tekanan nyata.
Kreativitas Tinggi di Tengah Permainan yang Aman
Meski jarang, triangle choke belum sepenuhnya punah. Beberapa petarung kreatif masih mampu mengeksekusinya lewat transisi tak terduga. Mereka memanfaatkan momen scramble, kesalahan lawan, atau kombinasi dengan guillotine dan armbar. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa triangle choke belum kehilangan relevansi, hanya membutuhkan kecerdasan ekstra. Namun secara umum, para petarung sepakat bahwa tren ini sulit berbalik. MMA terus bergerak ke arah permainan atas, tekanan, dan kontrol. Triangle choke kini menjadi simbol romantisme masa lalu, sebuah seni yang tetap hidup, meski jarang tampil di panggung utama.