Inews Combat Sports – Kemenangan Maycee Barber di UFC 323 bukan sekadar angka di catatan kariernya. Setelah absen selama 21 bulan akibat serangkaian masalah kesehatan serius, termasuk beberapa kali keluar-masuk rumah sakit, Barber akhirnya kembali ke oktagon dengan membawa beban emosional besar. Banyak atlet mungkin menyerah dalam kondisi seperti itu, tetapi Barber memilih bertahan. Laga melawan Karine Silva menjadi panggung pembuktian bahwa dirinya masih relevan dan kompetitif. Ia tampil dominan selama tiga ronde dan mengamankan kemenangan mutlak, memperpanjang rekor kemenangan menjadi tujuh laga beruntun. Namun, di balik hasil positif itu, ada cerita lain yang lebih kelam. Kemenangan tersebut justru mengungkap sisi rapuh keselamatan atlet ketika keputusan di dalam oktagon tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Insiden Tendangan Ilegal yang Mengubah Jalannya Laga
Di tengah laga, situasi berubah drastis ketika Maycee Barber terkena tendangan ilegal saat berada di posisi bawah. Tendangan tersebut bukan sekadar sentuhan ringan, melainkan mengenai wajah dan lehernya secara jelas. Barber merasakan sensasi kesemutan dan pusing, sesuatu yang ia gambarkan seperti menghantam “funny bone” di seluruh tubuhnya. Namun alih-alih diberi waktu pemulihan, wasit justru menyebut tendangan itu sebagai “glancing blow”. Keputusan tersebut membuat Barber bingung dan panik. Ia sempat mengira dirinya melakukan kesalahan dan pertandingan akan dihentikan karena ulahnya sendiri. Dalam situasi penuh tekanan itu, Barber dipaksa melanjutkan laga meski belum sepenuhnya pulih, sebuah kondisi yang menempatkan keselamatannya dalam risiko nyata.
“Baca Juga : Gaethje vs Pimblett: Duel Seru di UFC 324 yang Tak Boleh Dilewatkan“
Kebingungan dan Tekanan Mental di Dalam Oktagon
Bagi seorang petarung, kejelasan dari wasit adalah fondasi rasa aman. Dalam kasus ini, Barber justru mengalami kebingungan luar biasa. Ia mendengar perintah “stop” dan komentar yang meremehkan dampak tendangan, membuatnya ragu pada apa yang sebenarnya terjadi. Setelah menonton ulang pertarungan, Barber menyadari dirinya sempat oleng akibat tendangan tersebut. Namun saat itu, ia harus mengambil keputusan cepat. Ia memilih menekan lawan dengan takedown demi memberi waktu pada tubuhnya untuk beradaptasi. Keputusan itu lahir dari insting bertahan, bukan kondisi ideal. Tekanan mental ini menunjukkan betapa rentannya posisi atlet ketika komunikasi di dalam oktagon tidak berjalan jelas dan tegas.
Sorotan pada Kinerja Wasit dan Keamanan Atlet
Keputusan wasit Mark Smith menjadi pusat kritik, tidak hanya dari Barber tetapi juga dari tim siaran UFC. Tayangan ulang memperlihatkan tendangan tersebut mengenai Barber dengan jelas. Namun, Smith tidak mengembalikan posisi di ground, tidak memberi waktu pemulihan, dan tidak memberikan penalti kepada Karine Silva. Bagi Barber, ini bukan sekadar kesalahan kecil. Ia menegaskan bahwa tugas wasit adalah melindungi atlet. Ketika fungsi itu gagal dijalankan, rasa aman pun hilang. Barber secara terbuka menyatakan bahwa ia tidak ingin lagi dipimpin oleh wasit yang sama. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran mendalam soal keselamatan, terutama bagi atlet yang mempertaruhkan karier dan kesehatan mereka setiap kali bertanding.
“Baca Juga : Merab Dvalishvili mempertahankan gelar juara kelas bantamnya melawan Petr Yan“
Kesalahan Lain yang Memperparah Situasi
Masalah dalam laga tersebut tidak berhenti pada keputusan wasit. Barber juga mengungkap adanya kesalahan dari petugas waktu. Di akhir ronde kedua, saat ia terjebak dalam triangle choke, waktu seharusnya sudah habis. Namun timer tidak dihentikan tepat waktu, membuat situasi berbahaya itu terjadi. Jika waktu berjalan sesuai aturan, momen tersebut tidak akan pernah ada. Bagi Barber, ini menunjukkan bahwa kesalahan manusia bisa datang dari berbagai sisi. Meski ia mencoba menerima keadaan dengan lapang dada, fakta ini menambah daftar kekhawatiran soal profesionalisme dalam pertandingan besar. Kesalahan kecil dalam hitungan detik bisa berdampak besar pada keselamatan dan hasil laga.
Rasa Tak Aman dan Ketimpangan Risiko Atlet
Pernyataan paling tajam dari Barber adalah soal rasa aman. Ia menegaskan bahwa atlet mempertaruhkan segalanya di dalam oktagon, sementara ofisial tetap mendapatkan bayaran meski melakukan kesalahan. Ketimpangan ini terasa pahit. Barber mengakui bahwa setiap orang bisa mengalami hari buruk, tetapi dalam dunia pertarungan, “hari buruk” bisa berarti cedera serius atau karier yang terancam. Ia menilai keadilan dan keselamatan harus menjadi prioritas utama. Ketika kepercayaan terhadap wasit runtuh, atlet berada dalam posisi rentan. Ungkapan Barber bukan sekadar keluhan personal, melainkan refleksi dari keresahan banyak petarung yang menggantungkan hidup pada keputusan di dalam kandang.
Menatap Masa Depan dan Ambisi Gelar Juara
Di tengah semua kontroversi, Maycee Barber memilih fokus ke depan. Kemenangan di UFC 323 memberinya momentum besar untuk menatap 2026 dengan ambisi tinggi. Ia ingin segera kembali bertarung, tanpa jeda panjang seperti sebelumnya. Targetnya jelas: laga besar, peluang perebutan gelar, dan posisi di kartu utama bergengsi. Barber menyatakan dirinya kini dalam kondisi sehat dan siap masuk kamp pelatihan kapan saja. Setelah melalui masa sulit, ia tidak ingin berhenti. Cerita di UFC 323 mungkin menyisakan luka emosional, tetapi juga menegaskan mental baja seorang Maycee Barber yang siap terus melaju, meski sistem di sekelilingnya masih perlu banyak pembenahan.