Inews Combat Sports – Michael Chandler sudah lama menginginkan pertarungan melawan Conor McGregor. Namun ketika peluang itu ikut mengarah ke gelaran monumental UFC di halaman White House pada 2026, mimpi tersebut berubah menjadi tanggung jawab besar. Chandler memahami, duel itu bukan sekadar soal memutus tiga kekalahan yang ia alami, tetapi tentang membawa nama Amerika pada perayaan 250 tahun negeri itu. Di tengah antusiasme publik, ia merasakan tekanan yang menumpuk dari segala arah. Meski begitu, Chandler tetap mengaku siap. Baginya, kemenangan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Kepercayaan diri itu yang membuat ia terus membayangkan momen dirinya berjalan menuju oktagon sambil membawa warna merah, putih, dan biru di belakangnya.
Harus Menang, Bukan Hanya Bertarung
Chandler menegaskan bahwa pertarungan kontra McGregor tidak boleh ia jalani seperti laga biasa. Dengan bangga, ia menggambarkan betapa pentingnya tampil sempurna jika duel itu benar-benar menjadi partai utama di White House. Ia mengatakan harus mendominasi sejak awal, menghancurkan setiap celah permainan McGregor, dan memastikan kemenangan yang tak terbantahkan. Dalam wawancaranya, Chandler mengaku telah memvisualisasikan momen itu berulang kali bagaimana ia berdiri di halaman White House, diselimuti bendera Amerika, dan melihat tangannya terangkat. Tekanan tersebut mungkin terasa berat, tetapi baginya, inilah kesempatan yang hanya datang sekali. Lebih dari sekadar bertarung, ia ingin menghadirkan kemenangan simbolis bagi negaranya pada momen paling bersejarah.
“Baca Juga : Chelsea di Persimpangan Liga: Mampukah The Blues Jadi Penantang Gelar?“
Beban Sebagai Petarung Amerika di Pentas Bersejarah
Saat ini, UFC hanya memiliki satu juara asal Amerika, Kayla Harrison, yang juga merupakan peraih dua medali emas Olimpiade. Kondisi itu menempatkan Chandler pada posisi unik jika ia menjadi perwakilan utama dalam event bersejarah tersebut. Meskipun Dana White menegaskan bahwa UFC adalah olahraga global, Chandler memahami ekspektasi publik terhadap dirinya sebagai “wajah Amerika” pada pertarungan itu. Ia mengakui bahwa memikul harapan tersebut bukan sesuatu yang mudah, tetapi ia merasa terhormat bila mendapat kepercayaan besar dari penonton Amerika. Baginya, bertarung di White House mungkin hanya terjadi sekali dalam hidup seorang atlet. Dan ia tak sanggup membayangkan pulang dengan kekalahan dalam situasi penuh makna seperti itu.
Pertarungan Tanpa Sabuk, tapi Penuh Makna
Meski pertarungan ini tak melibatkan gelar juara, Chandler menilai besarnya momen sudah cukup untuk memberi bobot tersendiri. Baginya, mengalahkan McGregor di panggung setinggi itu lebih berharga daripada sabuk apa pun. Ia bahkan membayangkan Presiden Donald Trump masuk ke oktagon dan mengangkat tangannya setelah kemenangan. Chandler menganggap hal itu sebagai gambaran kemenangan simbolis bagi Amerika, terutama pada perayaan 250 tahun kemerdekaan. Ia juga tak menutup kemungkinan jika UFC membuat sabuk khusus semacam “White House Belt” untuk menandai momen langka tersebut. Walaupun sekadar simbol, sabuk itu bisa menjadi pengingat betapa istimewanya pertarungan yang mungkin hanya terjadi sekali dalam sejarah olahraga tempur dunia.
“Baca Juga : Persija vs PSIM: Malam Emosional di GBK untuk Ulang Tahun ke-97“
Dari Mimpi Menjadi Motivasi yang Membakar Semangat
Chandler menyadari bahwa pertarungan di halaman White House sebelumnya dianggap mustahil. Namun kenyataan bahwa event itu kini masuk agenda membuatnya semakin percaya bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar. Ia memandang setiap perkembangan sebagai peluang untuk menorehkan sejarah dan memberi penghormatan pada negaranya. Meskipun masih menunggu konfirmasi final dari UFC, Chandler tidak pernah berhenti mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun mental. Ia tahu, jika akhirnya bertarung, seluruh perhatian dunia akan tertuju padanya. Dan di momen sebesar itu, ia ingin menjadi petarung yang pulang membawa kemenangan, bukan sekadar cerita. Bagi Chandler, itulah cara terbaik menunjukkan kecintaannya pada Amerika.