Inews Combat Sports – Prediksi Juara UFC 2026, dunia MMA kembali dihadapkan pada satu kenyataan pahit sekaligus menarik: tidak ada yang benar-benar bisa memprediksi UFC dengan sempurna. Setelah musim 2025 menghadirkan pergantian juara di hampir semua divisi, publik kembali diajak menebak siapa yang akan bertahan hingga akhir 2026. Namun, ketidakpastian justru menjadi daya tarik utama olahraga ini. Setiap cedera, keputusan naik divisi, hingga satu pukulan bersih dapat mengubah peta kekuasaan. Karena itu, prediksi juara UFC 2026 bukan sekadar daftar nama, melainkan cerminan dinamika karier, momentum, dan psikologi petarung. Dengan mempertimbangkan performa terakhir, arah karier, serta situasi divisi masing-masing, artikel ini mencoba membaca masa depan UFC secara rasional, tetapi tetap menyadari bahwa MMA selalu menyimpan kejutan besar.
Cedera dan Ambisi Naik Divisi
Di kelas berat, nama Tom Aspinall masih menjadi favorit utama untuk menutup 2026 sebagai juara. Namun, cedera mata yang membuatnya harus naik meja operasi menciptakan ketidakpastian serius. Selama Aspinall absen, divisi ini tetap berada dalam kondisi cair. Sementara itu, kemungkinan Alex Pereira naik ke heavyweight menambah lapisan drama baru. Di light heavyweight, Pereira juga berada di persimpangan. Jika ia bertahan di 205 pon, kekuatannya masih sulit ditandingi. Di sisi lain, jika ia benar-benar naik divisi, peluang terbuka bagi nama seperti Jiri Prochazka atau bahkan kejutan baru. Dua divisi ini menunjukkan bahwa kekuasaan UFC sering kali ditentukan bukan hanya oleh kemampuan, tetapi juga keputusan strategis seorang petarung.
“Baca Juga : Gaethje vs Pimblett: Duel Seru di UFC 324 yang Tak Boleh Dilewatkan“
Middleweight: Era Dominasi atau Pergantian Mendadak?
Divisi middleweight tampaknya memiliki satu poros utama, yakni Khamzat Chimaev. Setelah performa dominan di 2025, Chimaev masuk 2026 sebagai favorit kuat. Meski demikian, sejarah UFC mengajarkan bahwa dominasi jarang bertahan lama tanpa gangguan. Beberapa pengamat percaya Chimaev akan naik ke light heavyweight sebelum akhir tahun, yang berpotensi mengosongkan sabuk. Jika itu terjadi, nama seperti Dricus du Plessis berpeluang kembali merebut tahta. Middleweight pun menjadi cermin bagaimana ambisi lintas divisi dapat menciptakan kekosongan kekuasaan, lalu melahirkan juara baru. Dengan kata lain, 2026 bisa menjadi tahun stabil bagi Chimaev, atau justru tahun transisi besar yang mengubah wajah divisi ini secara drastis.
Welterweight dan Lightweight: Persimpangan Legenda dan Generasi Baru
Di welterweight, Islam Makhachev membawa aura juara dua divisi. Penampilannya yang dominan membuat banyak pihak yakin ia mampu bertahan hingga akhir 2026. Namun, divisi ini dipenuhi penantang berbahaya seperti Shavkat Rakhmonov dan Michael Morales. Sementara itu, di lightweight, ketidakpastian semakin terasa. Ilia Topuria diprediksi tetap menjadi pusat cerita, meski Arman Tsarukyan dan bahkan Max Holloway mengintai peluang. Kedua divisi ini menyoroti benturan antara juara mapan dan generasi baru. Pada akhirnya, satu keputusan jadwal atau satu laga interim saja dapat menggeser peta juara secara total.
“Baca Juga : Merab Dvalishvili mempertahankan gelar juara kelas bantamnya melawan Petr Yan“
Usia, Konsistensi, dan Tekanan Ulang
Di featherweight, Alexander Volkanovski masih dipandang sebagai figur sentral. Namun, usia yang terus bertambah memunculkan tanda tanya besar tentang berapa lama ia bertahan di puncak. Diego Lopes dan Movsar Evloev siap memanfaatkan celah sekecil apa pun. Sebaliknya, di bantamweight, publik kembali menaruh harapan pada Umar Nurmagomedov meski pernah gagal. Meski demikian, tekanan untuk membuktikan diri semakin besar setelah kekalahan sebelumnya. Kedua divisi ini memperlihatkan bahwa konsistensi bukan hanya soal menang, tetapi juga soal bertahan di tengah regenerasi cepat. Setiap pertahanan gelar kini terasa seperti ujian akhir karier.
Flyweight Putra dan Divisi Wanita: Dominasi yang Diuji Waktu
Flyweight pria menjadi divisi paling sulit diprediksi. Alexandre Pantoja, Manel Kape, hingga Tatsuro Taira memiliki peluang yang relatif seimbang. Namun, sejarah flyweight menunjukkan bahwa kejutan hampir selalu terjadi. Di sisi lain, divisi wanita tampak lebih stabil. Valentina Shevchenko masih menjadi favorit utama di flyweight wanita, sementara Kayla Harrison mendominasi bantamweight. Meski usia menjadi faktor, pengalaman dan kecerdasan bertarung memberi Shevchenko keunggulan besar. Divisi strawweight juga hampir bulat mengarah pada Zhang Weili. Dengan demikian, sektor wanita menghadirkan kontras menarik: antara stabilitas dominasi dan potensi perubahan karena faktor usia dan ambisi naik divisi.
Membaca Masa Depan UFC Menjelang 2027
Prediksi juara UFC 2026 pada dasarnya adalah latihan kerendahan hati. Statistik, analisis, dan logika sering kali kalah oleh realitas oktagon. Namun demikian, membaca arah karier, momentum, dan kondisi divisi tetap memberi gambaran masuk akal. Dari Aspinall hingga Shevchenko, setiap nama membawa cerita sendiri tentang ketahanan, ambisi, dan risiko. Lebih jauh, UFC 2026 berpotensi menjadi tahun transisi besar menuju era baru. Beberapa legenda mungkin bertahan, sementara bintang baru bisa muncul tanpa peringatan. Bagi penggemar, inilah esensi MMA: ketidakpastian yang membuat setiap prediksi terasa rapuh, tetapi tetap layak diperjuangkan.