Inews Combat Sports – Gable Steveson baru menjalani dua laga profesional, tetapi namanya sudah dibicarakan seperti calon raja baru kelas berat. Ia berusia 25 tahun, membawa status juara Olimpiade gulat, dan menyelesaikan dua pertarungan pertamanya dalam total kurang dari tiga menit. Maka, wajar jika publik MMA mulai membangun harapan besar, bahkan terlalu besar. Di tengah kritik terhadap kelas berat UFC yang dinilai kehilangan bintang dan prospek segar, Steveson seperti muncul sebagai simbol harapan. Namun, ketika orang-orang menyebutnya “penyelamat” divisi, responsnya justru santai. Ia tidak menolak pujian, tetapi ia juga tidak mau memikul beban yang bukan miliknya. Baginya, tekanan bukan ancaman. Tekanan adalah latihan sehari-hari, dan ia percaya, “pressure makes diamonds.”
Kemenangan Cepat Membuat Nama Steveson Melejit Lebih Dini dari Perkiraan
Dalam dunia pertarungan, waktu sering menjadi pembeda antara hype dan kenyataan. Steveson memotong proses itu dengan cara brutal: dua lawan, dua penyelesaian cepat, dan publik langsung menaruh label besar di pundaknya. Selain itu, latar belakangnya sebagai pegulat elite membuat banyak orang yakin ia bukan petarung “proyek,” melainkan petarung siap pakai. Namun, lonjakan popularitas ini juga menciptakan ekspektasi yang tidak biasa bagi petarung yang baru memulai. Banyak orang tidak lagi bertanya apakah ia akan sukses, melainkan kapan ia masuk UFC. Di titik ini, Steveson terlihat seperti sosok yang paham ritme sorotan. Ia menikmati momen, tetapi tetap menjaga langkahnya. Karena ia tahu, karier besar tidak hanya dibangun oleh kemenangan cepat, melainkan oleh konsistensi.
“Baca Juga : Mike Tyson vs Floyd Mayweather Jr Resmi Digelar April 2026“
Label “Penyelamat Divisi” Muncul Saat Kelas Berat UFC Kehilangan Magnet
Ada alasan mengapa publik mudah memproyeksikan Steveson sebagai penyelamat. Kelas berat UFC sedang mendapat kritik, bukan karena kurang pertarungan, tetapi karena kurang daya tarik. Juara bertahan Tom Aspinall masih absen usai operasi mata ganda, sementara daftar penantang terlihat tipis. Selain itu, divisi ini tidak memiliki banyak nama muda yang membuat fans penasaran. Situasi ini menciptakan ruang kosong, dan dalam olahraga, ruang kosong selalu cepat diisi oleh narasi. Steveson datang pada waktu yang “pas,” ketika orang butuh cerita baru. Karena itu, bukan hanya kemampuan yang membuatnya menarik, tetapi juga timing. Ia seperti karakter utama yang muncul saat plot sedang mandek. Dan publik, seperti biasa, ingin percaya bahwa satu orang bisa mengubah segalanya.
“Tidak Ada Tekanan,” Kata Steveson, Karena Ia Sudah Terbiasa di Panggung Besar
Saat ditanya tentang beban ekspektasi, Steveson tidak bermain drama. Ia justru menolak gagasan bahwa dirinya sedang tertekan. Ia mengatakan sudah pernah berada di tempat-tempat besar, saat semua orang mempertanyakan apakah ia bisa membuktikan diri, dan ia sudah menjawabnya berkali-kali. Kalimatnya sederhana, tetapi mengandung mentalitas atlet elite: ia menganggap tekanan sebagai bagian dari pekerjaan. Bahkan, ia mengulang mantra yang terdengar seperti motivasi klasik, namun terasa tulus dari mulutnya: “pressure makes diamonds.” Selain itu, ia berbicara dengan nada percaya diri yang tidak meledak-ledak. Ia tidak terlihat sedang menjual mimpi. Ia hanya terlihat seperti orang yang tahu siapa dirinya. Dalam olahraga yang penuh ego, sikap ini justru terasa menenangkan.
“Baca Juga : Callum Smith vs David Morrell Resmi Digelar di Liverpool“
Steveson Memuji Para Petarung Kelas Berat, Tapi Tetap Datang dengan Dominasi
Menariknya, Steveson tidak membangun citra dengan merendahkan divisi. Ia menyebut kelas berat memiliki banyak petarung hebat dan ia datang dengan rasa hormat. Namun, ia juga menegaskan bahwa ia membawa sesuatu yang berbeda: power, dominasi, timing, speed, dan youthfulness. Cara ia menyebut kualitas itu terasa seperti deklarasi, bukan ancaman. Selain itu, ia tidak terdengar seperti orang yang ingin menjadi viral lewat trash talk. Ia lebih memilih narasi “aku datang untuk membuat jalanku sendiri.” Sikap ini penting, karena banyak petarung muda terjebak pada kebutuhan untuk terlihat “besar” sebelum waktunya. Steveson sebaliknya: ia membiarkan prestasi berbicara. Ia tahu, respek bukan sesuatu yang diminta. Respek adalah sesuatu yang diambil, satu pertarungan demi satu pertarungan.
UFC Sudah Mengintip, Tapi Steveson Fokus pada Satu Malam di Meksiko
Steveson kembali bertarung pada MFL 3 di Meksiko, yang menjadi laga profesional ketiganya. Di atas kertas, ini masih tahap awal. Namun, atmosfernya terasa seperti pintu gerbang menuju UFC. UFC disebut sudah mengakui minat terhadapnya, dan publik pun menunggu apakah kemenangan berikutnya akan menjadi tiket langsung. Meski begitu, Steveson memilih untuk berbicara dengan nada yang lebih “grounded.” Ia menekankan bahwa targetnya adalah berkembang di setiap kamp latihan, lalu menunjukkan hasilnya saat bertanding. Fokus ini penting, karena banyak karier runtuh bukan karena kurang bakat, melainkan karena terlalu cepat memikirkan panggung berikutnya. Steveson terlihat paham: satu kesalahan kecil di tahap awal bisa merusak momentum. Maka, ia menjaga pikirannya tetap sederhana menang dulu, baru bicara masa depan.