Inews Combat Sports – Ronda Rousey Ungkap perjalanan panjangnya menghadapi masalah gegar otak yang sempat menghentikan kariernya hampir satu dekade. Jauh sebelum menjadi juara UFC, ia sudah mengalami benturan kepala saat masih aktif sebagai perenang cilik. Masalah itu kemudian berlanjut ketika ia meniti karier di judo hingga meraih medali perunggu Olimpiade. Seiring waktu, gejala semakin terasa setelah dua kekalahan KO beruntun di UFC. Karena itu, ketika peluang comeback muncul, Rousey tidak langsung menerima. Ia justru ingin memastikan kondisi kesehatannya aman. Tekad tersebut menunjukkan bahwa di balik reputasinya sebagai petarung tangguh, ada sisi manusiawi yang ingin melindungi masa depannya.
Peran Dana White Membuka Jalan Diagnosis
Ronda Rousey Ungkap bahwa langkah awalnya dimulai dengan menghubungi CEO UFC, Dana White. Namun alih-alih langsung membahas pertandingan, White terlebih dahulu memastikan kondisi kesehatannya. Ia kemudian mengirim Rousey ke Cleveland Clinic, pusat penelitian neurologi yang memiliki studi jangka panjang tentang kesehatan petarung. Di sana, dokter melakukan serangkaian tes menyeluruh. Hasilnya mengejutkan sekaligus melegakan. Otaknya dinyatakan dalam kondisi baik tanpa kerusakan permanen. Momen ini menjadi titik balik emosional bagi Rousey. Selama bertahun-tahun, ia hidup dalam ketakutan akan kemungkinan kerusakan otak serius. Kini, untuk pertama kalinya, ia mendapatkan diagnosis yang jelas dan berbasis ilmiah.
“Baca Juga : Molly McCann Resmi Comeback ke Ring Tinju“
Migrain, Epilepsi, dan Misteri Gejala yang Mirip Gegar Otak
Ronda Rousey Ungkap bahwa gejala yang ia alami ternyata tidak selalu berarti gegar otak baru. Dokter menemukan kemungkinan bahwa benturan memicu aura migrain yang berkaitan dengan riwayat epilepsi dalam keluarganya. Menurut penjelasan medis, kondisi tersebut disebut cortical spreading depression, di mana neuron menjadi terlalu aktif lalu berhenti secara bertahap, menyebabkan gangguan penglihatan dan konsentrasi. Penjelasan ini mengubah perspektif Rousey tentang kesehatannya sendiri. Selama ini ia mengira setiap benturan berarti cedera baru. Padahal, beberapa gejala kemungkinan merupakan respons neurologis berbeda. Informasi tersebut memberinya pemahaman yang lebih utuh tentang tubuhnya.
Harapan Baru Lewat Terapi Pencegahan
Ronda Rousey Ungkap rasa lega ketika dokter akhirnya menemukan obat pencegahan migrain yang sesuai. Awalnya, sebagian besar pengobatan hanya bersifat reaktif, diberikan setelah gejala muncul. Namun kini tersedia terapi preventif yang bisa diminum sebelum gejala terjadi. Bagi Rousey, kabar ini terasa seperti perubahan hidup. Ia bahkan mengaku sempat takut mengalami kerusakan otak permanen. Dengan terapi baru, ia melihat kemungkinan kembali bertarung tanpa dihantui ketakutan yang sama. Meski begitu, ia tetap berkomitmen untuk bertarung dengan strategi defensif maksimal. Ia menyadari bahwa mencegah pukulan tetap menjadi kunci keselamatan jangka panjang.
“Baca Juga : Claressa Shields Kembali Pertahankan Status Undisputed Champion Dunia“
Comeback yang Sarat Pertanyaan dan Pengawasan Medis
Ronda Rousey Ungkap bahwa meskipun hasil diagnosis positif, ia tetap harus melalui pemeriksaan ketat sebelum kembali bertanding. Komisi Atletik Negara Bagian California menegaskan bahwa ia akan menjalani tes medis ekstensif. Langkah ini penting untuk memastikan keamanan atlet dan integritas kompetisi. Comeback Rousey tentu memicu rasa penasaran publik. Banyak yang bertanya apakah tubuhnya siap menghadapi intensitas pertarungan profesional. Namun di sisi lain, transparansi medis yang ia bagikan memberi gambaran bahwa keputusan ini tidak diambil secara sembarangan. Ia memilih kembali dengan pemahaman penuh atas risiko dan perlindungan medis yang memadai.
Perjalanan Emosional Seorang Juara
Ronda Rousey Ungkap bahwa perjalanannya bukan sekadar tentang kembali ke arena, tetapi juga tentang memahami tubuh dan batasannya. Selama bertahun-tahun, ia membawa beban ketidakpastian. Kini, dengan diagnosis jelas dan rencana pengobatan, ia merasa lebih percaya diri. Meski negosiasi finansial membuatnya tidak kembali ke UFC, ia tetap bersyukur kepada Dana White yang membantunya menemukan jawaban medis. Perjalanan ini memperlihatkan sisi lain seorang juara: kerentanan, ketakutan, dan keberanian untuk mencari bantuan. Dalam dunia pertarungan yang keras, kejujuran tentang kesehatan menjadi langkah penting yang patut diapresiasi.