Inews Combat Sports – Adesanya kritik Alex Pereira menjelang pertarungan besar yang menanti mantan rivalnya di UFC 335. Pereira dijadwalkan menghadapi Sergei Pavlovich dalam laga co-main event pada 12 Desember di T-Mobile Arena, Las Vegas. Pertarungan tersebut menjadi penampilan kedua Pereira di divisi heavyweight. Namun, perhatian Adesanya justru tertuju pada pernyataan Pereira sebelum laga. Poatan sebelumnya mengatakan bahwa dirinya akan kembali ke light heavyweight jika kalah dari Pavlovich. Bagi Adesanya, cara berpikir tersebut terasa aneh menjelang pertarungan berisiko tinggi. Ia mempertanyakan mengapa Pereira sudah membicarakan kemungkinan kalah sebelum memasuki oktagon. Terlebih lagi, Pavlovich merupakan mantan penantang gelar heavyweight yang dikenal berbahaya. Menurut Adesanya, seorang petarung sekelas Pereira seharusnya memasuki laga dengan keyakinan penuh. Karena itu, pernyataan tentang rencana kembali ke kelas 205 pound justru membuatnya merasa tidak nyaman.
Pernyataan Jika Kalah Menjadi Sorotan Utama Adesanya
Komentar Pereira mengenai kemungkinan kembali ke light heavyweight ternyata sangat mengganggu Adesanya. Ketika berbicara bersama Demetrious Johnson, mantan juara middleweight UFC itu secara terbuka mengatakan dirinya tidak menyukai pernyataan tersebut. Baginya, membicarakan rencana setelah kalah dapat menciptakan kesan bahwa seorang petarung sudah membuka ruang bagi kekalahan. Adesanya bahkan mempertanyakan alasan Pereira mengambil pertarungan melawan Pavlovich. Namun, kritik tersebut juga menunjukkan hubungan unik di antara keduanya. Mereka pernah menjadi rival sengit, tetapi kini dapat membicarakan perjalanan masing-masing dengan perspektif berbeda. Adesanya mengetahui secara langsung kekuatan mental Pereira setelah menghadapi petarung Brasil tersebut dalam empat pertandingan di dua cabang olahraga. Oleh karena itu, kritiknya terasa lebih personal daripada sekadar komentar seorang pengamat. Ia tampaknya ingin melihat Pereira memasuki UFC 335 dengan mentalitas agresif yang selama ini membuat Poatan menjadi salah satu petarung paling ditakuti.
Baca Juga : Lomachenko Belum Selesai, O’Shaquie Foster Jadi Target Besar Berikutnya
Rivalitas Panjang Membuat Komentar Adesanya Terasa Berbeda
Hubungan Israel Adesanya dan Alex Pereira memiliki sejarah yang sulit dipisahkan dari perjalanan karier keduanya. Sebelum bertemu di UFC, mereka sudah dua kali berhadapan dalam kickboxing dan Pereira memenangkan kedua pertandingan tersebut. Rivalitas kemudian berpindah ke oktagon. Pada UFC 281 pada November 2022, Pereira menghentikan Adesanya pada ronde kelima dan merebut gelar middleweight UFC. Lima bulan kemudian, cerita berubah secara dramatis. Adesanya membalas kekalahan itu melalui kemenangan knockout di UFC 287 pada April 2023. Pertarungan tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan dalam rivalitas mereka. Setelah persaingan panjang itu berakhir, hubungan keduanya justru berkembang menjadi lebih bersahabat. Karena pengalaman tersebut, Adesanya memahami tekanan dan kemampuan Pereira dari jarak yang sangat dekat. Ketika ia mempertanyakan keputusan Poatan sekarang, komentarnya datang dari seseorang yang pernah merasakan langsung kekuatan, keberanian, dan bahaya yang dimiliki mantan rivalnya tersebut.
“Go Back to Chama” Jadi Pesan Tegas untuk Pereira
Adesanya kemudian menyampaikan pesan sederhana yang langsung menarik perhatian: “Go back to Chama.” Kata “Chama” sudah lama melekat pada identitas Pereira dan menjadi simbol semangat yang dibawanya selama perjalanan di UFC. Melalui pesan tersebut, Adesanya tampaknya ingin mantan rivalnya kembali kepada pendekatan sederhana yang membuatnya begitu berbahaya. Ia meminta Pereira meninggalkan berbagai gangguan dan kembali fokus pada mentalitas bertarungnya. Bagi Adesanya, pembicaraan mengenai kemungkinan kalah dan kembali ke light heavyweight tidak perlu muncul sebelum laga. Pereira memiliki reputasi sebagai petarung yang tenang, kuat, dan mampu memberikan tekanan besar kepada lawan. Karakter itulah yang ingin kembali dilihat Adesanya. Menariknya, pesan tersebut datang dari seseorang yang dahulu memiliki persaingan panas dengan Pereira. Namun, waktu mengubah hubungan mereka. Kini, kritik Adesanya terdengar lebih seperti peringatan dari seorang mantan rival yang memahami kemampuan Pereira daripada serangan pribadi terhadap perjalanan kariernya.
Baca Juga : Manny Pacquiao Berpeluang Hadapi Joe Cordina, Kontrak Belum Diteken
Sergei Pavlovich Membawa Ancaman Besar di Kelas Heavyweight
Kekhawatiran Adesanya juga tidak dapat dilepaskan dari lawan yang akan dihadapi Pereira. Sergei Pavlovich pernah menjadi penantang gelar heavyweight dan membawa ancaman berbeda dibandingkan lawan Pereira di divisi yang lebih ringan. Ukuran tubuh, kekuatan pukulan, serta tekanan fisik di heavyweight dapat mengubah dinamika pertarungan dengan sangat cepat. Pereira memang memiliki pengalaman dan kemampuan striking kelas dunia. Namun, naik divisi selalu membawa tantangan baru, terutama ketika berhadapan dengan petarung heavyweight alami. Karena itu, UFC 335 dapat menjadi ujian penting bagi ambisi Pereira di kelas tersebut. Pertarungan ini juga akan memberikan gambaran mengenai apakah Poatan dapat membangun perjalanan panjang di heavyweight atau memilih kembali ke 205 pound. Pernyataannya tentang kemungkinan turun kelas jika kalah semakin memperbesar pertanyaan tersebut. Sementara itu, kemenangan atas Pavlovich bisa mengubah situasi secara drastis dan membawa Pereira semakin dekat dengan persaingan elite heavyweight UFC.
Light Heavyweight Masih Menjadi Rumah yang Masuk Akal
Adesanya juga mempertanyakan mengapa Pereira tidak langsung kembali ke light heavyweight setelah pertarungan sebelumnya melawan Ciryl Gane. Menurut pandangannya, keputusan tersebut sebenarnya masuk akal karena Pereira telah memiliki posisi kuat di kelas 205 pound. Tubuh Pereira memang besar ketika dahulu berkompetisi sebagai middleweight. Namun, perbedaan ukuran menjadi lebih kecil ketika ia menghadapi heavyweight alami. Di sisi lain, light heavyweight memberikan keseimbangan menarik antara kekuatan fisik dan keunggulan striking yang sudah menjadi ciri khasnya. Karena itu, kemungkinan kembali ke divisi tersebut tetap terbuka apabila eksperimen heavyweight tidak berjalan sesuai harapan. Namun, keputusan Pereira menghadapi Pavlovich menunjukkan bahwa ia masih ingin menguji batas kemampuannya. Risiko yang diambil jelas besar. Akan tetapi, keberanian mengambil tantangan juga menjadi bagian penting dari perjalanan Poatan. UFC 335 kini akan menentukan apakah petualangan heavyweight tersebut berkembang atau justru membawanya pulang ke kelas lamanya.
UFC 335 Bisa Menentukan Arah Babak Berikutnya Pereira
Pertarungan melawan Pavlovich akhirnya membawa makna lebih besar daripada sekadar kemenangan dan kekalahan. Bagi Pereira, UFC 335 dapat menentukan arah fase berikutnya dalam karier yang sudah penuh pencapaian. Kemenangan akan memperkuat posisinya sebagai ancaman baru di heavyweight dan mungkin membuka jalan menuju pertarungan yang lebih besar. Sebaliknya, kekalahan dapat mendorongnya kembali ke light heavyweight, sesuai rencana yang sudah ia ungkapkan. Adesanya tampaknya tidak mempermasalahkan pilihan divisi tersebut. Yang membuatnya keberatan adalah Pereira sudah membicarakan skenario kekalahan sebelum pertarungan berlangsung. Dari sudut pandangnya, Poatan harus kembali membawa keyakinan yang membuat namanya begitu ditakuti. Itulah mengapa pesan “Go back to Chama” terasa penting. Dua mantan rival itu mungkin tidak lagi berdiri berseberangan di oktagon, tetapi sejarah panjang mereka membuat setiap komentar tetap memiliki bobot emosional yang berbeda.