Inews Combat Sports – Peluang juara Movsar Evloev bisa mencapai titik paling menentukan ketika ia memasuki oktagon UFC 333 di Abu Dhabi. Petarung tak terkalahkan itu akan menantang Alexander Volkanovski dalam perebutan sabuk kelas bulu. Komentator UFC Jon Anik menilai kesempatan ini sangat berharga karena persaingan di divisi featherweight begitu padat. Evloev akhirnya mendapat perebutan gelar setelah bertahun-tahun membangun rekornya. Ia mengalahkan Lerone Murphy dalam laga utama UFC London pada Maret lalu. Kemenangan tersebut menjadi kemenangan ke-10 secara beruntun di UFC sekaligus memperpanjang rekor profesionalnya menjadi 20-0. Namun, pencapaian itu tidak menjamin kesempatan kedua jika ia gagal di Abu Dhabi. Menurut Anik, banyak penantang berkualitas sedang menunggu giliran. Karena itu, UFC 333 bukan sekadar kesempatan merebut sabuk. Pertarungan ini bisa menentukan seberapa dekat Evloev dengan impian menjadi juara dunia pada tahun-tahun mendatang.
Jon Anik Melihat Persaingan Kelas Bulu Sangat Ketat
Anik memahami bahwa satu kekalahan tidak otomatis menghapus status Evloev sebagai petarung elite. Bahkan jika kalah dari Volkanovski, ia kemungkinan tetap menjadi favorit ketika menghadapi banyak nama lain di divisi tersebut. Masalahnya, mendapatkan kesempatan perebutan gelar kedua bisa jauh lebih sulit. Menurut Anik, kelas bantam, bulu, dan ringan memiliki kedalaman luar biasa. Banyak petarung hanya membutuhkan satu kemenangan besar untuk masuk dalam pembicaraan perebutan sabuk. Ia menyebut Jean Silva sebagai salah satu nama yang layak mendapat perhatian. Aljamain Sterling juga masih berada di sekitar persaingan papan atas. Situasi tersebut membuat antrean menuju gelar terus bergerak. Bagi Evloev, mempertahankan rekor tak terkalahkan selama ini telah membutuhkan kesabaran panjang. Karena itu, Anik akhirnya melihat laga pada 24 Oktober sebagai momen yang sangat menentukan. Kekalahan pertama mungkin tidak merusak reputasinya, tetapi dapat memaksanya kembali melewati perjalanan panjang untuk memperoleh kesempatan serupa.
Baca Juga : Rafael Espinoza Tantang Naoya Inoue, Siap Bertarung di Jepang
Perjalanan Panjang Evloev Akhirnya Sampai pada Perebutan Gelar
Bagi Anik, cerita terbesar UFC 333 berada pada perjalanan Evloev menuju laga perebutan sabuk. Ia merasa petarung tersebut sudah lama melakukan cukup banyak hal untuk mendapatkan kesempatan ini. Evloev memang tidak dikenal sebagai finisher yang selalu mengakhiri pertandingan secara spektakuler. Namun, konsistensinya sulit diabaikan. Dua puluh pertandingan profesional telah ia lalui tanpa kekalahan. Sepuluh kemenangan UFC secara beruntun juga menunjukkan bahwa keberhasilannya bukan hasil kebetulan. Anik membandingkan perjuangan semacam ini dengan perjalanan beberapa petarung lain yang akhirnya memaksa UFC memberikan kesempatan melalui kemenangan berulang. Kini, Evloev tidak perlu lagi meyakinkan publik bahwa ia pantas berada di dekat sabuk. Ia hanya perlu membuktikan bahwa dirinya mampu mengalahkan sang juara. Satu kemenangan atas Volkanovski dapat mengubah seluruh narasi kariernya. Dalam satu malam, petarung yang lama menunggu bisa berubah menjadi juara dunia sekaligus membuka babak baru di kelas bulu UFC.
Alexander Volkanovski Membawa Pengalaman yang Sulit Ditandingi
Tantangan Evloev menjadi semakin berat karena lawannya adalah Alexander Volkanovski. Sang juara telah melewati berbagai pertarungan besar dan memahami tekanan di panggung tertinggi. Volkanovski menjadi juara kelas bulu untuk kedua kalinya setelah mengalahkan Diego Lopes dalam perebutan gelar yang ditinggalkan Ilia Topuria pada UFC 314. Ia kemudian kembali menghadapi Lopes pada UFC 325 dan tampil lebih dominan. Pengalaman itu memberikan keuntungan yang sulit diukur hanya melalui statistik. Volkanovski mampu mengubah ritme, berpindah kuda-kuda, menggunakan jab, bertarung di clinch, dan memilih takedown pada momen yang tepat. Anik bahkan menilai Volkanovski menguasai seluruh 10 ronde dalam dua pertemuannya dengan Lopes. Selain kemampuan teknis, kekuatan fisiknya juga menjadi perhatian. Volkanovski pernah memiliki bobot tubuh jauh lebih besar ketika bermain rugby. Tubuh yang padat dan kekuatannya dapat menghadirkan tantangan berbeda bagi Evloev saat keduanya mulai bertarung dalam jarak dekat.
Baca Juga :Paul Gallen Panggil Raksasa 208 Cm Jelang Lawan Asofa-Solomona
Wrestling Evloev Akan Mendapat Ujian Terberat
Kekuatan utama Evloev berada pada kemampuan wrestling ofensif yang membuat lawan sulit mendapatkan ritme. Namun, Anik penasaran melihat seberapa jauh kemampuan tersebut berkembang selama beberapa tahun terakhir. Mengontrol Volkanovski bukan tugas sederhana. Sang juara memiliki keseimbangan, kekuatan, dan pengalaman grappling yang dapat membuat setiap percobaan takedown menjadi pertarungan tersendiri. Evloev juga perlu menunjukkan bahwa kontrolnya menghasilkan dampak nyata. Ground and pound, kerusakan, serta durasi kontrol dapat menjadi penting apabila pertandingan berlangsung ketat. Di sisi lain, Volkanovski memiliki permainan feint yang membuat lawan ragu sebelum masuk. Ia dapat mengganti stance dan menggunakan jab untuk mengatur jarak. Kombinasi tersebut bisa menyulitkan Evloev ketika mencari momentum untuk menyerang kaki atau tubuh. Karena itu, pertarungan ini bukan hanya soal siapa yang memiliki wrestling lebih baik. Evloev harus menemukan cara membawa Volkanovski ke area favoritnya tanpa menerima terlalu banyak serangan selama proses tersebut.
Faktor Fisik Bisa Menjadi Pembeda di Abu Dhabi
Anik juga tertarik melihat bagaimana kedua petarung bereaksi setelah merasakan kekuatan satu sama lain secara langsung. Statistik dan rekaman pertandingan dapat membantu mempersiapkan strategi, tetapi kontak fisik menghadirkan informasi berbeda. Volkanovski dikenal memiliki tubuh yang sangat padat untuk ukuran kelas bulu. Pengalamannya bermain rugby dengan bobot sekitar 214 pon menunjukkan latar fisik yang tidak biasa bagi seorang featherweight. Evloev mungkin memiliki wrestling berkualitas tinggi, tetapi ia harus membuktikan bahwa tekniknya tetap efektif menghadapi lawan dengan pusat gravitasi rendah dan kekuatan seperti Volkanovski. Sebaliknya, sang juara juga belum mengetahui secara pasti bagaimana tekanan grappling Evloev akan terasa ketika pertandingan dimulai. Fase awal laga dapat menjadi momen penting bagi keduanya untuk membaca kekuatan tersebut. Jika Evloev mampu mengontrol Volkanovski sejak awal, kepercayaan dirinya bisa meningkat. Namun, jika Volkanovski terus menggagalkan takedown, tekanan mental dapat berbalik menghantui sang penantang.
Tiga Tahun Menunggu Kini Bermuara pada Satu Malam
Ada detail sederhana yang menggambarkan betapa panjangnya penantian Evloev. Anik mengingat sang petarung pernah mengatakan bahwa ia tidak akan mengonsumsi gula sampai mendapatkan kesempatan merebut gelar dunia. Saat mendengar janji itu, Anik memperkirakan kesempatan tersebut mungkin datang dalam delapan hingga 12 bulan. Kenyataannya, Evloev harus menunggu sekitar tiga tahun. Kini, seluruh pengorbanan tersebut bermuara pada satu malam di Abu Dhabi. UFC 333 memberinya kesempatan untuk mengubah rekor sempurna menjadi sesuatu yang lebih besar: status juara dunia. Namun, tekanan yang menyertai kesempatan itu juga sangat berat. Jika menang, Evloev dapat membuktikan bahwa penantian panjang tersebut memang layak. Jika kalah, antrean penantang yang padat bisa memaksanya memulai perjalanan baru. Itulah mengapa peluang juara Movsar Evloev terasa begitu rapuh sekaligus menarik. Pada akhirnya, satu pertarungan dapat menentukan arah beberapa tahun berikutnya dalam kariernya.