Inews Combat Sports – Alexander Volkanovski seperti GSP menjadi gambaran yang disampaikan pelatih City Kickboxing, Eugene Bareman, menjelang UFC 333. Bareman melihat Volkanovski sebagai petarung komplet yang mampu mengubah strategi sesuai situasi di dalam oktagon. Penilaian itu terasa istimewa karena Georges St-Pierre atau GSP merupakan salah satu nama terbesar dalam sejarah UFC. Namun, Bareman tidak menilai Volkanovski hanya dari kemenangan atau sabuk juara. Ia justru menyoroti perjalanan panjang sang petarung menuju level elite. Menurutnya, Volkanovski bukan atlet dengan bakat alami paling menonjol yang pernah ia temui. Kerja keras, komitmen, dan keinginan untuk terus berkembang menjadi kekuatan utamanya. Kombinasi tersebut perlahan membentuk Volkanovski menjadi petarung yang sangat lengkap. Karena itu, pujian Bareman terasa lebih dalam daripada sekadar perbandingan dua juara. Ia melihat sebuah perjalanan yang dibangun melalui disiplin, kegagalan, dan keberanian untuk terus memperbaiki diri.
Kerja Keras Menjadi Senjata Terbesar Volkanovski
Bareman memiliki pandangan menarik tentang sumber keberhasilan Volkanovski. Ia bahkan tidak menempatkan petarung Australia tersebut dalam kelompok teratas jika hanya mengukur bakat alami. Namun, Volkanovski mengubah keterbatasan menjadi kekuatan melalui latihan yang konsisten. Dedikasinya membuat kemampuan teknis berkembang dari tahun ke tahun. Ia memperbaiki striking, pertahanan takedown, wrestling, hingga kemampuan membaca lawan. Proses itulah yang membuat Bareman menganggap perjalanan Volkanovski sangat istimewa. Dalam olahraga tarung, bakat memang dapat memberi keuntungan awal. Namun, bakat saja tidak selalu membawa seorang atlet menuju puncak. Volkanovski menunjukkan bahwa disiplin dapat memperkecil jarak tersebut. Bahkan, kerja keras bisa menciptakan kemampuan yang sebelumnya tidak terlihat. Perjalanan itu juga memberi sisi manusiawi pada kariernya. Di balik status juara dan sorotan besar UFC, terdapat seorang atlet yang terus bekerja untuk mempertahankan levelnya. Mentalitas tersebut kini menjadi bagian penting dari identitas Volkanovski.
Baca Juga : Rafael Espinoza Tantang Naoya Inoue, Siap Bertarung di Jepang
Kemampuan Lengkap Membuatnya Dibandingkan dengan GSP
Perbandingan dengan Georges St-Pierre muncul karena Volkanovski memiliki perangkat teknik yang sangat luas. Bareman menilai keduanya mampu menentukan arah pertarungan berdasarkan karakter lawan. Volkanovski dapat menyerang dari jarak jauh meski memiliki postur yang relatif pendek untuk gaya tersebut. Ia juga nyaman bergerak mundur, lalu mengubah tempo dengan tekanan agresif. Selain itu, kemampuan wrestling dan pertahanan takedown membuat permainannya semakin sulit ditebak. Karakter serupa pernah menjadi kekuatan utama GSP. Legenda Kanada itu mampu mengutamakan striking ketika situasi menuntutnya. Namun, ia juga dapat menggunakan wrestling ofensif atau defensif saat menghadapi lawan berbeda. Menurut Bareman, kemampuan mengubah pendekatan seperti itulah yang menggambarkan petarung pound-for-pound sejati. Volkanovski tidak harus memenangkan setiap laga dengan pola yang sama. Sebaliknya, ia mencari area yang paling efektif untuk mengatasi lawan. Fleksibilitas tersebut membuat perbandingan dengan GSP terasa masuk akal dari sudut pandang teknis.
UFC 333 Menjadi Ujian Baru Melawan Movsar Evloev
Pujian besar tersebut hadir menjelang ujian penting bagi Volkanovski di UFC 333. Ia dijadwalkan mempertahankan gelar kelas bulu melawan Movsar Evloev dalam laga utama. Tantangan ini membawa tekanan tersendiri karena Evloev datang dengan rekor tidak terkalahkan. Gaya wrestling dan kontrolnya juga berpotensi menghadirkan masalah berbeda bagi sang juara. Karena itu, kemampuan Volkanovski untuk beradaptasi kembali mendapat ujian serius. Bareman akan berada di sudutnya dan membantu menyusun strategi menghadapi karakter permainan Evloev. Pertarungan tersebut juga menjadi kesempatan bagi Volkanovski untuk memperkuat warisannya di kelas bulu. Ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di jajaran atas daftar pound-for-pound. Namun, setiap pertahanan gelar tetap menghadirkan cerita baru. Satu kesalahan kecil dapat mengubah jalannya pertandingan. Di sisi lain, kemenangan atas penantang tak terkalahkan akan kembali menunjukkan mengapa Volkanovski dianggap sebagai salah satu petarung paling lengkap pada generasinya.
Baca Juga :Paul Gallen Panggil Raksasa 208 Cm Jelang Lawan Asofa-Solomona
Bangkit dari Kekalahan Membentuk Warisan Sang Juara
Karier Volkanovski tidak selalu berjalan mulus. Kekalahan KO dari Ilia Topuria menjadi salah satu momen paling berat dalam perjalanannya. Kekalahan seperti itu dapat mengubah kepercayaan diri seorang petarung, terutama setelah bertahun-tahun berada di puncak. Namun, Volkanovski memilih kembali membangun dirinya. Ketika Topuria meninggalkan divisi kelas bulu, ia mendapat kesempatan bertarung melawan Diego Lopes untuk gelar yang kosong. Volkanovski memanfaatkan kesempatan tersebut dan kembali menjadi juara. Ia kemudian menghadapi Lopes sekali lagi dalam pertandingan ulang dan kembali meraih kemenangan. Kebangkitan itu memiliki arti besar karena terjadi ketika usianya sudah mencapai 38 tahun. Pada kelas ringan seperti featherweight, kecepatan dan reaksi sering menjadi faktor penting. Usia biasanya membuat tantangan semakin berat. Namun, Volkanovski tetap mampu bersaing di level tertinggi. Cerita kebangkitannya akhirnya menambah dimensi baru pada warisan yang sudah ia bangun.
Usia 38 Tahun Tidak Memadamkan Ambisi Volkanovski
Bagi Bareman, usia tidak sepenuhnya menjelaskan kondisi seorang atlet. Ia pernah melihat petarung dengan usia serupa yang tidak mampu mempertahankan ritme latihan seperti Volkanovski. Karena itu, sang pelatih lebih menyoroti mentalitas yang masih menyala dalam diri juaranya. Volkanovski tetap berlatih dengan tujuan mempertahankan gelar dan menjaga posisinya di level tertinggi. Semangat tersebut menjadi penting karena tubuh seorang petarung menghadapi tekanan besar sepanjang karier. Latihan keras, pemotongan berat badan, cedera, dan pertarungan meninggalkan beban fisik yang tidak ringan. Namun, pengalaman juga memberikan keuntungan. Volkanovski telah menghadapi berbagai tipe lawan dan situasi sulit di oktagon. Ia memahami kapan harus menekan, bertahan, atau mengubah strategi. Kini, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara pengalaman dan kondisi fisik. Selama kemampuan itu tetap terjaga, usia hanya menjadi salah satu bagian dari cerita panjang seorang juara yang belum ingin berhenti.
Warisan Volkanovski Melampaui Sabuk Juara UFC
Apa pun hasil pertarungan berikutnya, Bareman percaya Volkanovski telah membangun tempat khusus dalam sejarah olahraga tarung. Penilaian tersebut tidak hanya muncul karena jumlah kemenangan atau gelar yang pernah ia raih. Cara Volkanovski membentuk dirinya menjadi atlet elite menjadi bagian penting dari warisan tersebut. Ia menunjukkan bahwa seorang petarung tidak harus memiliki bakat alami luar biasa sejak awal untuk mencapai puncak. Dedikasi dapat mengubah kemampuan, sementara pengalaman dapat mempertajam keputusan di dalam oktagon. Itulah alasan Bareman melihat kemiripan dengan GSP. Keduanya dikenal mampu membawa pertarungan menuju area yang memberikan peluang terbaik untuk menang. Namun, Volkanovski tetap memiliki cerita dan identitasnya sendiri. Perjalanan dari petarung yang dianggap tidak memiliki bakat paling istimewa menuju juara dunia membuat kisahnya terasa dekat dengan banyak orang. UFC 333 mungkin menjadi babak berikutnya, tetapi reputasi Volkanovski telah dibangun jauh sebelum bel pertama berbunyi.