Inews Combat Sports – Gaethje Tolak Rematch Pimblett menjadi topik hangat setelah Paddy Pimblett kembali mencuri perhatian lewat kemenangan impresif di UFC 329. Banyak penggemar langsung berspekulasi bahwa duel kedua antara keduanya akan segera terjadi. Namun, Justin Gaethje memiliki pandangan berbeda. Petarung asal Amerika Serikat itu mengaku belum melihat alasan kuat untuk kembali menghadapi Pimblett dalam waktu dekat. Baginya, hasil pertemuan pertama masih sangat relevan karena berlangsung hanya beberapa bulan lalu. Selain itu, ia masih mempertimbangkan berbagai pilihan untuk langkah berikutnya dalam kariernya. Pernyataan tersebut sekaligus meredam harapan sebagian penggemar yang ingin melihat rivalitas itu kembali menghiasi divisi lightweight UFC dalam waktu dekat.
Kemenangan Pertama Masih Menjadi Pegangan Gaethje
Pada Januari 2026, Justin Gaethje menghadapi Paddy Pimblett dalam perebutan gelar interim kelas ringan UFC. Saat itu banyak pengamat menjagokan Pimblett karena performanya sedang menanjak. Namun, Gaethje justru tampil luar biasa. Ia mendominasi pertarungan berdiri dengan kombinasi pukulan keras, tekanan tanpa henti, dan pengalaman bertanding yang matang. Setelah lima ronde penuh aksi, para juri memberikan kemenangan mutlak kepada Gaethje melalui keputusan angka. Pertandingan tersebut bahkan disebut sebagai salah satu kandidat Fight of the Year karena menghadirkan intensitas tinggi dari awal hingga akhir. Oleh sebab itu, Gaethje merasa hasil duel tersebut masih cukup jelas. Ia tidak melihat kebutuhan mendesak untuk kembali bertemu Pimblett hanya enam bulan setelah pertarungan pertama selesai.
Baca Juga : Johnny Fisher Resmi Tinggalkan Matchroom, Pilih Bergabung dengan Zuffa Boxing
Paddy Pimblett Bangkit Lewat Penampilan Meyakinkan
Meski gagal mengalahkan Gaethje pada awal tahun, Paddy Pimblett berhasil menunjukkan mentalitas luar biasa. Di UFC 329, petarung asal Inggris itu tampil agresif saat menghadapi Benoit Saint Denis. Ia menuntaskan pertandingan melalui submission cepat yang langsung mengembalikannya ke jalur perebutan gelar. Penampilan tersebut mengubah pandangan banyak penggemar terhadap peluang Pimblett di divisi lightweight. Sebelumnya, kekalahan dari Gaethje sempat memunculkan keraguan mengenai kemampuannya bersaing dengan para petarung elite. Kini, kemenangan itu membuktikan bahwa Pimblett masih memiliki potensi besar. Meski demikian, kebangkitan tersebut belum cukup untuk membuat Gaethje berubah pikiran. Sang juara tetap menilai bahwa masih ada pilihan lain yang lebih masuk akal dibandingkan langsung menjalani pertandingan ulang.
Gaethje Menghargai Sikap Hormat dari Rivalnya
Di balik persaingan sengit di dalam oktagon, hubungan profesional antara Gaethje dan Pimblett justru berkembang dengan baik. Selama pekan pertandingan UFC 329, Pimblett beberapa kali menyampaikan rasa hormat kepada Gaethje. Ia mengaku terinspirasi oleh kemenangan spektakuler Gaethje atas Ilia Topuria pada pertengahan tahun. Menurut Pimblett, kemenangan tersebut mengubah cara pandangnya setelah mengalami kekalahan. Pengakuan itu mendapat respons positif dari Gaethje. Ia merasa bangga jika perjuangannya mampu memberikan motivasi kepada atlet lain, termasuk mantan lawannya sendiri. Bagi Gaethje, persaingan tidak selalu harus diwarnai permusuhan. Sebaliknya, olahraga bela diri dapat menjadi sarana saling menghormati sekaligus mendorong setiap petarung untuk berkembang menjadi lebih baik.
Baca Juga :Joshua Pacio Pertahankan Gelar Dunia usai Tundukkan Mansur Malachiev
Kisah Gaethje Memberikan Inspirasi bagi Banyak Atlet
Justin Gaethje mengaku terkejut ketika mengetahui banyak atlet dari berbagai cabang olahraga mengambil inspirasi dari perjalanan kariernya. Salah satunya adalah Rafael Fiziev yang pernah dua kali bertarung melawannya. Fiziev mengatakan kemenangan Gaethje atas Topuria memberikan semangat baru untuk kembali mengejar prestasi. Tidak hanya itu, mantan juara dunia tinju Anthony Joshua juga menyampaikan bahwa dunia pertarungan selalu mengajarkan kerendahan hati dan mengingatkan setiap atlet agar tidak cepat merasa puas. Gaethje melihat respons tersebut sebagai sesuatu yang sangat berharga. Menurutnya, olahraga tarung memiliki karakter unik karena setiap pertarungan mempertemukan dua individu secara langsung tanpa bantuan rekan setim. Pengalaman itu menciptakan rasa hormat yang kuat di antara para atlet profesional.
Divisi Lightweight Semakin Penuh Persaingan
Persaingan di kelas ringan UFC kini semakin ketat setelah sejumlah petarung tampil impresif sepanjang 2026. Selain Gaethje dan Pimblett, masih ada banyak nama besar yang terus bersaing memperebutkan kesempatan menghadapi sang juara. Situasi tersebut membuat setiap keputusan pertandingan memiliki dampak besar terhadap peta persaingan gelar. Karena itu, UFC harus mempertimbangkan berbagai faktor sebelum menentukan penantang berikutnya. Popularitas memang menjadi nilai tambah, tetapi performa terbaru dan posisi dalam peringkat tetap menjadi pertimbangan utama. Gaethje memahami kondisi tersebut sehingga ia memilih bersabar sebelum mengambil keputusan. Ia ingin memastikan pertarungan berikutnya benar-benar memberikan nilai besar bagi kariernya sekaligus menarik perhatian penggemar di seluruh dunia.
Gaethje Memilih Menatap Masa Depan dengan Tenang
Justin Gaethje sebelumnya sempat mengisyaratkan kemungkinan pensiun setelah melalui banyak pertarungan keras sepanjang kariernya. Namun, ia kini kembali membuka peluang untuk bertanding lagi. Meski begitu, ia belum ingin terburu-buru menerima tawaran pertandingan baru. Gaethje diperkirakan baru akan kembali memasuki oktagon pada 2027 setelah mempertimbangkan kondisi fisik dan peluang terbaik yang tersedia. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman telah mengubah cara pandangnya dalam mengelola karier. Ia tidak lagi hanya mengejar jumlah pertarungan, tetapi juga memilih laga yang benar-benar berarti. Dengan pendekatan tersebut, Gaethje berharap dapat terus tampil kompetitif di level tertinggi sekaligus mempertahankan warisan sebagai salah satu petarung paling berani dan menghibur dalam sejarah divisi lightweight UFC.