Inews Combat Sports – Gillian Robertson buka suara setelah beberapa hari menjadi pusat perhatian seusai UFC 330 di Philadelphia. Petarung asal Kanada itu kalah dari juara kelas strawweight Mackenzie Dern dalam duel perebutan gelar pada 15 Agustus 2026. Namun, cerita setelah pertandingan justru berkembang menjadi persoalan yang lebih emosional. Pelatih lamanya, Din Thomas, mengumumkan mundur dari tugas sebagai cornerman setelah kekalahan Robertson. Waktu pengumuman tersebut kemudian memicu kritik dari sejumlah pihak. Robertson akhirnya memberikan pernyataan kepada The Ariel Helwani Show. Ia mengaku tidak melihat tanda bahwa Thomas akan menyampaikan keputusan tersebut sebelum tampil dalam siaran pascapertandingan. Situasi itu terasa semakin berat karena Thomas bukan sosok baru dalam perjalanan Robertson. Keduanya telah bekerja bersama sejak Robertson berusia 15 tahun. Karena itu, kontroversi ini menyentuh hubungan panjang yang melampaui satu malam pertandingan.
Pengumuman Din Thomas Membuat Situasi Semakin Rumit
Kontroversi bermula ketika Din Thomas mengumumkan bahwa dirinya akan berhenti menjalankan tugas sebagai cornerman setelah Robertson kalah. Keputusan seorang pelatih untuk mundur sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa dalam olahraga tarung. Namun, waktu dan cara penyampaiannya memunculkan perdebatan. Robertson mengatakan dirinya tidak mengetahui rencana tersebut sebelum Thomas berbicara dalam siaran UFC 330. Setelah tayangan selesai, komunikasi antara keduanya juga disebut tidak langsung menyelesaikan masalah. Menurut Robertson, Thomas sempat mengatakan akan membahas situasi itu pada pagi hari. Namun, tidak lama kemudian ia memberi tahu bahwa dirinya akan melakukan siaran langsung. Hal tersebut membuat Gillian Robertson buka suara mengenai bagaimana komunikasi terjadi setelah pertandingan. Bagi seorang petarung yang baru mengalami kekalahan dalam laga gelar, dukungan dari tim menjadi sangat penting. Karena itulah, reaksi publik kemudian berkembang jauh melampaui hasil pertandingan di oktagon.
Baca Juga : Jermell Charlo Bidik Tim Tszyu untuk Pertarungan Berikutnya
Permintaan Maaf Din Thomas Belum Menjernihkan Hubungan
Din Thomas kemudian menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui podcast Deep Waters. Ia mengkritik tindakannya sendiri dan mengakui bahwa keputusan tersebut tidak ditangani dengan baik. Namun, Robertson mengatakan persoalan di antara mereka belum benar-benar selesai. Menurut pernyataannya, Thomas menghubunginya secara pribadi pada sore hari. Beberapa jam kemudian, ia juga mengirim pesan suara berisi permintaan maaf. Robertson memilih belum memberikan tanggapan. Ia mengaku masih mempertimbangkan beberapa komentar yang disebut disampaikan Thomas kepada timnya setelah kontroversi berkembang. Bagi Robertson, permintaan maaf publik tampaknya belum cukup untuk menghapus rasa kecewa yang muncul. Situasi ini menunjukkan betapa rumitnya hubungan antara atlet dan pelatih ketika kepercayaan mulai terganggu. Dalam olahraga MMA, pelatih bukan hanya memberikan instruksi teknis. Mereka juga menjadi orang yang berdiri paling dekat dengan petarung ketika tekanan, kekalahan, dan risiko berada pada titik tertinggi.
Hubungan Panjang Sejak Robertson Berusia 15 Tahun
Kontroversi ini terasa lebih berat karena Robertson dan Thomas memiliki sejarah yang sangat panjang. Thomas telah melatih Robertson sejak petarung Kanada tersebut berusia sekitar 15 tahun. Dari masa awal berlatih hingga mencapai panggung terbesar MMA, keduanya melewati banyak tahap perkembangan bersama. Robertson kemudian masuk UFC pada 2017 dan membangun reputasi sebagai salah satu spesialis submission berbahaya. Ia mencatat berbagai pencapaian di kelas flyweight sebelum turun ke strawweight. Perubahan divisi tersebut membuka babak baru dalam kariernya. Robertson meraih lima kemenangan beruntun dan akhirnya mendapatkan kesempatan menantang Mackenzie Dern untuk gelar. Perjalanan panjang itu membuat persoalan setelah UFC 330 terasa lebih personal. Hubungan atlet dan pelatih yang dibangun selama bertahun-tahun tidak mudah dipisahkan dari emosi. Karena itu, ketika Gillian Robertson buka suara, perhatian publik tidak hanya tertuju pada pertengkaran, tetapi juga masa depan hubungan profesional mereka.
Baca Juga :Janibek Alimkhanuly Ingin Hadapi Hamzah Sheeraz di New York
Kritik Sean Strickland Membuat Kontroversi Meluas
Persoalan Robertson dan Thomas kemudian menarik perhatian sejumlah nama besar UFC. Salah satunya adalah juara kelas menengah Sean Strickland. Ia mengkritik keras cara Thomas menangani situasi setelah kekalahan Robertson. Komentar tersebut membuat perdebatan semakin ramai di komunitas MMA. Di satu sisi, sebagian orang menilai seorang pelatih memiliki hak menentukan kapan harus berhenti menjadi cornerman. Namun, pihak lain mempertanyakan apakah pengumuman itu seharusnya dilakukan tepat setelah petarung mengalami kekalahan besar. Momen setelah laga perebutan gelar biasanya menjadi periode yang sangat emosional bagi seorang atlet. Mereka harus menghadapi rasa kecewa sambil menerima perhatian publik yang besar. Dalam situasi tersebut, komunikasi internal tim menjadi sangat penting. Kontroversi ini akhirnya berkembang menjadi pembicaraan tentang tanggung jawab pelatih terhadap atlet. Bukan hanya soal strategi bertarung, tetapi juga bagaimana keputusan penting disampaikan ketika seorang petarung sedang berada dalam kondisi paling rentan secara profesional.
Masa Depan Robertson dan Thomas Kini Menjadi Pertanyaan
Belum ada kepastian apakah Din Thomas akan tetap terlibat dalam persiapan Robertson pada masa mendatang. Pernyataan Robertson menunjukkan bahwa komunikasi pribadi telah terjadi. Namun, percakapan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan ketegangan. Situasi ini menciptakan pertanyaan besar mengenai kelanjutan kerja sama yang telah berlangsung bertahun-tahun. Bagi seorang petarung, mengganti pelatih bukan keputusan sederhana. Setiap kamp latihan dibangun melalui kepercayaan, pemahaman teknik, serta kebiasaan yang berkembang dalam waktu panjang. Di sisi lain, hubungan yang kehilangan rasa percaya juga sulit dipertahankan hanya karena sejarah bersama. Robertson kini berada pada fase penting dalam kariernya. Kekalahan dari Dern memang menghentikan rangkaian kemenangan, tetapi tidak menghapus pencapaiannya di divisi strawweight. Karena itu, keputusan mengenai tim pelatih berikutnya dapat berpengaruh besar terhadap perjalanan kariernya. Untuk sementara, Robertson tampaknya memilih memberi dirinya ruang sebelum menentukan langkah selanjutnya.
Robertson Memilih Pulih dan Mengejar Gelar Lagi
Di tengah kontroversi yang belum sepenuhnya reda, Robertson tetap mengarahkan pandangan pada masa depan. Ia mengatakan ingin beristirahat, memulihkan kondisi tubuh, lalu kembali berlatih secepat mungkin. Kekalahan di UFC 330 memang menyakitkan, terlebih karena datang pada kesempatan memperebutkan gelar. Namun, perjalanan seorang petarung tidak selalu bergerak lurus menuju kemenangan. Robertson telah melewati berbagai fase sebelum mencapai laga tersebut. Kini, ia harus menghadapi tantangan lain yang datang dari luar oktagon. Ketika Gillian Robertson buka suara, pesan terpenting dari pernyataannya justru muncul pada bagian akhir. Ia masih memiliki misi yang sama dan ingin kembali ke persaingan gelar. Bagi Robertson, masa pemulihan menjadi kesempatan untuk menata tubuh, pikiran, dan lingkungan profesionalnya. Kontroversi dengan Thomas mungkin belum selesai, tetapi ambisinya sebagai petarung tampaknya belum berubah: kembali ke gym dan membangun jalan menuju kesempatan berikutnya.